03 April 2025

Get In Touch

Dosen Ubaya Imbau Masyarakat Bijak Gunakan  Antibiotik Rasional 

Dosen Fakultas Farmasi Universitas Surabaya (Ubaya), Dr. apt. Fauna Herawati, M.Farm-Klin.
Dosen Fakultas Farmasi Universitas Surabaya (Ubaya), Dr. apt. Fauna Herawati, M.Farm-Klin.

SURABAYA (Lenteratoday)- Baru-baru ini, edukasi penggunaan antibiotik rasional sempat ramai diperbincangkan. Dilansir dari Kementerian Kesehatan Indonesia (kemkes.go.id), telah ditemukan peningkatan resistensi antibiotik pada bakteri jenis Escherichia coli dan Klebsiella pneumoniae yang dinilai berbahaya. 

Pasalnya, kedua bakteri itu dapat menyebabkan kematian dan menyerang seluruh sistem organ dalam tubuh manusia. 

Menanggapi hal itu, Dosen Fakultas Farmasi Universitas Surabaya (Ubaya), Dr. apt. Fauna Herawati, M.Farm-Klin, mengatakan, jika tubuh manusia akan bergejala ketika satu bakteri kuat berhasil beradaptasi dan membentuk koloni dalam jumlah yang banyak. 

“Antibiotik bekerja bila struktur kimia antibiotik berikatan dengan protein reseptor bakteri seperti kunci dan anak kunci, sehingga perkembangan bakteri terhambat. Kita perlu ingat, ketika kita mengonsumsi antibiotik tertentu, bakteri bisa bermutasi sehingga strukturnya tidak cocok lagi. Itulah sebabnya saat kita sakit oleh bakteri yang kuat, antibiotik yang sudah dikonsumsi tidak bisa diberikan lagi,” ucapnya, Rabu (27/11/2024).
 
Fauna menjelaskan, penggunaan antibiotik hanya dikhususkan pada pasien yang terserang bakteri, bukan virus. “Penyakit yang disebabkan oleh virus biasanya akan membaik dalam 3-5 hari dengan pengobatan simptomatik, yaitu obat untuk mengurangi keluhan gejala sakit. Jika lebih dari itu, apoteker biasanya akan memberikan rujukan untuk pemeriksaan lebih lanjut ke dokter untuk observasi apakah terinfeksi bakteri atau bukan. Jadi penggunaan antibiotik itu sudah ada rambu-rambunya,” jelasnya.
 
Kepala Program Studi Magister Ilmu Farmasi Ubaya itu mengungkapkan, program pengendalian bakteri resisten dan resistensi antibiotik dapat dilakukan melalui kolaborasi dari tenaga kesehatan dan disertai oleh kesadaran penggunaan antibiotik yang rasional. 

Menurutnya, riwayat penggunaan antibiotik di tiga bulan terakhir dan penegakkan diagnosis penyakit infeksi sangat penting untuk dilakukan. 

“Penting bagi tenaga medis untuk mendiagnosis tingkat keparahan penyakit infeksi dan pilihan terapi secara empiris sesuai dengan mikroorganisme penyebab infeksi pada pasien. Informasi tentang penggunaan antibiotik di tiga bulan terakhir dapat membantu mengenali potensi bakteri resisten dan menggunakan pilihan antibiotik yang sensitif sehingga keberhasilan terapi tercapai,” tuturnyq.
 
Bahkan berdasarkan hasil penelitian yang ia lakukan di tahun 2020 tentang hubungan antara pengetahuan dan keyakinan terhadap kepatuhan pasien dalam menggunakan antibiotik, menunjukkan bahwa masyarakat sudah mengetahui adanya bakteri kebal antibiotik.

Sayangnya, masyarakat tetap mengonsumsi antibiotik secara sembarangan karena persepsi tentang bakteri resisten dapat menyebabkan kematian rendah. “Pasien yang merasa pusing, demam, atau reaksi inflamasi lainnya seringkali merasa pulih akibat konsumsi antibiotik. Jadi mereka merasa disembuhkan antibiotik. Padahal bukan karena antibiotiknya tetapi memang karena sudah waktunya sembuh. Seolah antibiotik yang menyelamatkan,” tambahnya.
 
Jika penggunaan antibiotik terus dilakukan tanpa pengawasan tenaga kesehatan, resistensi antibiotik dikhawatirkan dapat menyebabkan ketersediaan pilihan antibiotik berkurang. “Yang ditakutkan, penyakit infeksi bakteri tertentu menjadi sulit disembuhkan karena tidak ada antibiotik yang bisa mengatasi,” tukasnya. (*)

Reporter: Amanah  | Editor: Lutfiyu Handi

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.