
SURABAYA (lenteratoday) - Sejak beberapa tahun lalu, gempa Megathrust kerap dibicarakan. Namun, kapan sebenarnya bencana itu bisa terjadi?
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan soal fenomena ini dan kapan bisa terjadi. Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menjelaskan potensi megathrust menunggu sumber segmen gempa yang ada di zona seismic gap Selat Sunda dan Mentawai-Siberut.
Daryono menjelaskan, pada dua segmen gempa tersebut sudah terjadi gempa besar pada bertahun lalu. Sehingga pembahasan itu bukan karena gempa besar akan segera terjadi, namun karena adanya potensi gempa karena segmen sumber gempa yang berada di sekitarnya sudah terjadi gempa besar.
"Peristiwa semacam ini merupakan momen yang tepat untuk mengingatkan kita di Indonesia akan potensi gempa di zona seismic gap Selat Sunda dan Mentawai-Siberut," ucap Daryono dikutip dari CNBC Indonesia, Minggu (15/12/2024).
Sebagai catatan, gempa besar di Selat Sunda terjadi pada 1957 dengan usia seismic gap 267 tahun. Sementara di Mentawai-Siberut sudah terjadi pada 1979 atau usia seismic sudah 227 tahun.
Ini berbeda dengan gempa yang terjadi di Tunjaman Nankai yang sempat mengalami gempa pada 8 Agustus 2024. Sebelumnya gempa besar pernah terjadi pada 1946 dengan usia seismic 78 tahun.
Daryono mengartikannya kedua seismic gap di Indonesia memiliki periodisitas jauh lebih lama dibandingkan dengan Nankai. Seharusnya Indonesia jauh lebih serius untuk menyiapkan upaya mitigasi bencana.
Sehingga potensi gempa besar atau megathrust ini bisa terjadi karena kedua wilayah tersebut sudah ratusan tahun belum terjadi gempa besar. "Tetapi bukan berarti segera akan terjadi gempa dalam waktu dekat," ucap Daryono.
Sementara itu, Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati menjelaskan isu ini bukanlah hal baru. Pihaknya terus membicarakan soal potensi gempa di zona Megathrust agar masyarakat bisa bersiap menghadapi efek risikonya.
"Kenapa BMKG dan beberapa pakar mengingatkan (megathrust)? Tujuannya adalah untuk 'ayo, tidak hanya ngomong aja, segera mitigasi (tindakan mengurangi dampak bencana)," ujar Dwikorita, dikutip dari CNN Indonesia.
Pihak BMKG telah melakukan berbagai langkap antisipasi. Salah satunya menempatkan sensor-sensor sistem peringatan dini tsunami InaTEWS menghadap zona tersebut.
Kemudian juga melakukan edukasi masyarakat lokal dan internasional termasuk dengan melakukan pendampingan pada pemerintah daerah menyiapkan infrastruktur mitigasi, mulai dari jalur evakuasi, sistem peringatan dini dan shelter tsunami.
Selain itu bergabung juga Indian Ocean Tsunami Information Center. Tujuan komunitas ini mengedukasi 25 negara di Samudera Hindia dalam menghadapi gempa dan tsunami.
BMKG juga melakukan pengecekan berkala sistem peringatan dini yang dihibahkan kepada Pemda. Terakhir menyebarluaskan peringatan dini bencana yang dibantu oleh Kementerian Komdigi. (*)
Sumber : CNBCIndonesia | Editor : Lutfiyu Handi