
MALANG (Lenteratoday) - Sebanyak 14 titik lokasi di Kota Malang, telah terpetakan sebagai wilayah rawan bencana cuaca ekstrem.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Malang bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda, telah mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan. Mengingat potensi cuaca ekstrem seperti hujan lebat, banjir, tanah longsor, dan angin kencang yang diperkirakan akan melanda wilayah Jawa Timur, termasuk Kota Malang, dalam sepekan ke depan.
"BMKG ini kan selalu mengupdate informasi terkait prediksi cuaca, nah untuk kesiapsiagaan, kami sudah petakan ada 14 lokasi rawan. Itu sudah kami share agar di kewilayahan juga siaga, utamanya di spot-spot area rawan bencana," ujar Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kota Malang, Prayitno, Senin(16/12/2024).
Prayitno menyebutkan 14 titik lokasi tersebut di antaranya berada di kawasan kelurahan Ketawanggede, kelurahan Sumbersari, Tunggulwulung, dan Kelurahan Tasikmadu yang keempatnya terletak di wilayah Kecamatan Lowokwaru. Kemudian kawasan kelurahan Oro-oro Dowo, Kelurahan Penanggungan, kawasan Balai Kota Malang hingga Stasiun Kota Baru yang berada di Kecamatan Klojen.
Termasuk juga kawasan Kelurahan Kesatrian di Kecamatan Blimbing, kemudian kawasan persawahan di wilayah Gadang, Bakalan Krajan, serta di kawasan kelurahan Mulyorejo yang terletak Kecamatan Sukun.
"Selanjutnya yakni di wilayah Kelurahan Bumiayu, terus di kawasan Buring itu ada di sepanjang Jalan Mayjend Sungkono hingga Gor Ken Arok dan komplek Perumahan Sawojajar, ini masuk di Kecamatan Kedungkandang," tambahnya.
Prayitno juga mengingatkan pentingnya kesiapan warga, termasuk mempersiapkan jalur evakuasi dan peralatan darurat.
“Langkah antisipasi perlu dilakukan, mulai dari membersihkan saluran air hingga memastikan tidak ada pohon yang rawan tumbang di lingkungan sekitar,” pungkasnya.
Sementara itu, Kepala BMKG Juanda, Taufiq Hermawan menjelaskan fenomena atmosfer yang melintasi wilayah Jawa Timur menjadi penyebab utama peningkatan cuaca ekstrem ini.
"Adanya beberapa fenomena gelombang atmosfer seperti Kelvin, Equatorial Rossby, dan MJO (Madden-Julian Oscillation) mengakibatkan peningkatan pertumbuhan awan-awan penghujan di wilayah Jawa Timur,” jelas Taufiq melalui pernyataan resminya.
Taufiq menambahkan aktifnya Monsun Asia dan suhu muka laut yang hangat di perairan sekitar Jawa Timur, juga turut menyuplai uap air ke atmosfer, mempercepat pembentukan awan hujan. BMKG juga menyebut dampak tidak langsung dari bibit siklon tropis 93S di Samudra Hindia Barat Australia sebagai salah satu pemicu cuaca ekstrem di wilayah ini.
Lebih lanjut, BMKG Juanda juga mengimbau masyarakat untuk waspada, terutama bagi warga yang tinggal di daerah rawan bencana. Wilayah dengan topografi curam, bergunung, atau tebing, menurutnya sangat berpotensi terdampak bencana seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor, hingga pohon tumbang.
“Masyarakat diharapkan berhati-hati saat berkegiatan di luar rumah, terutama saat hujan deras. Hindari area dekat pohon besar atau sungai yang berpotensi meluap,” imbuh Taufiq.
Reporter: Santi Wahyu/Editor: Ais