
MALANG (Lenteratoday) - Minimnya anggaran menjadi kendala bagi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Malang untuk menambah sistem peringatan dini atau early warning system (EWS) di wilayah rawan banjir. Sehingga, BPBD akan memindahkan salah satu EWS ke Gang Mirej, Kelurahan Madyopuro.
Pemindahan ke lookasi itu karena menjadi kawasan paling parah terdampak banjir luapan Sungai Amprong beberapa waktu lalu. "Bahkan sampai 120-an rumah yang terdampak di sana. Nah memang dengan adanya kejadian ini kami harus memetakan lagi 24 EWS yang sudah ada, untuk bisa dipasang di Gang Mirej. Karena kemarin yang paling banyak terdampak di wilayah Gang Mirej," ujar Kepala Pelaksana BPBD Kota Malang, Prayitno, Kamis (2/1/2025).
Dia mengatakan, selama ini, di wilayah aliran Sungai Amprong, EWS hanya terpasang di satu titik yakni di Gang Sate, Kelurahan Lesanpuro, Kecamatan Kedungkandang.
Namun, setelah kejadian banjir luapan tersebut, menurutnya BPBD Kota Malang merasa perlu melakukan kajian ulang terhadap posisi EWS banjir yang tersebar.
Salah satu opsi yang dipertimbangkan, yakni pemindahan EWS banjir yang berada di Jalan Danau Ranau Kelurahan Sawojajar. Menurut Prayitno, banjir yang terjadi di wilayah tersebut tidak terlalu berdampak ke rumah-rumah warga.
"Opsinya mungkin EWS yang ada di Danau Ranau, kelurahan Sawojajar. Yang berada di pojok perempatan itu. Karena kalau secara teknis, EWS di situ gak terlalu berdampak. Banjirnya hanya sebatas di jalan raya, gak sampai masuk rumah. Tapi kalau di Gang Mirej ini, menyebabkan banyak rumah terendam. Bahkan sampai 160 cm kemarin itu," jelasnya.
Prayitno menambahkan, pihaknya akan melibatkan pejabat wilayah untuk menentukan lokasi yang tepat untuk peletakan EWS banjir di Gang Mirej agar dapat terpasang secara strategis. "Tujuannya supaya Camat, Lurah, dan warga sekitar bisa menjaga dan merawat bersama EWS itu nanti," katanya.
Lebih lanjut, Prayitno mengaku tidak dapat menambah jumlah EWS baru karena keterbatasan anggaran. Menurutnya, saat penyusunan anggaran belanja daerah untuk tahun 2025, penambahan EWS belum termasuk di dalamnya.
"Saat menyusun anggaran beberapa bulan lalu, wilayah ini belum tercatat sebagai wilayah berisiko. Karena juga tidak ada historis sebelumnya bahwa di sini daerah yang rawan banjir. Dulu pernah di 1987, kan kontur di sini memang landai dan dekat dengan sungai. Tapi waktu itu banjir ke lahan kosong. Nah sekarang kan berbeda, sudah banyak rumah, banyak nyawa di sini," paparnya.
Dalam hal ini, menurutnya biaya pengadaan EWS bervariasi, mulai dari Rp 3,5 juta hingga Rp 150 juta, tergantung fitur yang digunakan. Namun, Prayitno mengaku berencana untuk melaporkan kebutuhan pengadaan EWS canggih yang memiliki sensitivitas tinggi kepada Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Malang. (*)
Reporter: Santi Wahyu | Editor : Lutfiyu Handi