
MALANG (Lentetratoday) - Program nasional, Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Malang mulai dilaksanakan pada pekan kedua Januari 2025. Program ini akan menjangkau satu sekolah, yakni SDN 3 Lowokwaru, dengan total penerima sekitar 500 siswa.
Dengan jumlah siswa di Kota Malang yang mencapai 137.500 anak dari jenjang PAUD hingga SMP, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang, Suwarjana, mengakui pelaksanaan program ini masih belum merata ke seluruh siswa.
"Kota Malang memang belum hari ini. Ini kami dikabari, penunjukannya kan dari pusat. Nanti akan dimulai pada 13 Januari sampai 29 Maret 2025. Pelaksanaannya dilaksanakan setiap Senin hingga Jumat, nanti dibagikan pada jam istirahat kedua sekitar pukul 10.30," ujar Suwarjana, ditemui di kantor Disdikbud Kota Malang, Senin (6/1/2025).
Menurut Suwarjana, SDN 3 Lowokwaru sebelumnya telah menjadi lokasi uji coba program ini pada pertengahan Agustus hingga awal September 2024. Hasil uji coba tersebut, dimungkinkan menjadi dasar penunjukan sekolah ini untuk melanjutkan program MBG.
Suwarjana menjelaskan saat pelaksanaan uji coba, makanan yang diberikan cukup lengkap, mencakup nasi, lauk pauk seperti ikan atau ayam, sayuran, buah, dan susu. Dirinya berharap, kualitas makanan yang diberikan saat pelaksanaan resmi nantinya tetap sama meskipun dengan anggaran Rp 10 ribu per porsi.

Program MBG nanti sepenuhnya berasal dari anggaran pemerintah pusat, dan akan dikelola oleh Gojek yang bekerja sama dengan UMKM lokal di Kota Malang. Dikatakannya, Gojek akan bertugas untuk menyiapkan makanan, memastikan pendistribusian, hingga pengiriman ke sekolah.
"Kami kurang tahu (kenapa Gojek). Tetapi saat uji coba waktu itu juga dari Gojek. Pemkot dari Dinkes, Disdikbud, Dispangtan, itu turun untuk memonitoring apakah sudah sesuai dengan standar gizi yang dibutuhkan anak-anak," katanya.
"Cuman mohon maaf, sekarang ini sepertinya dari segi harga berbeda. Kalau kemarin (uji coba) itu di kisaran Rp 15-17 ribu, sekarang di Rp 10 ribu. Mudah-mudahan kualitasnya sama," terangnya.
Disinggung terkait pelaksanaan program yang terbatas pada satu sekolah, menurut Suwarjana, pelaksanaan MBG tersebut murni penunjukan dari pusat.
"Tentu ini menjadi pertanyaan publik juga kenapa hanya satu sekolah. Jawabannya, karena memang ini pusat sendiri yang menunjuk. Kalau kami mengajukan pun juga gak bisa," paparnya.
Dirinya berharap agar program MBG ke depan dapat diperluas secara merata, terutama untuk daerah-daerah perbatasan di Kota Malang, yakni wilayah di Kecamatan Kedungkandang atau diperbanyak di jenjang TK dan PAUD.
Reporter: Santi Wahyu|Editor: Arifin BH