03 April 2025

Get In Touch

Bencana Alam Sepanjang 2024 di Kabupaten Malang Akibatkan Kerugian Hingga Rp 35 Miliar

Petugas BPBD Kabupaten Malang melakukan pembersihan material longsor di Sumbermanjing Wetan pada November 2024 lalu.(foto:ist/dok.Pusdalops BPBD Kabupaten Malang)
Petugas BPBD Kabupaten Malang melakukan pembersihan material longsor di Sumbermanjing Wetan pada November 2024 lalu.(foto:ist/dok.Pusdalops BPBD Kabupaten Malang)

MALANG (Lenteratoday) - Banjir dan tanah longsor mendominasi bencana alam yang terjadi di Kabupaten Malang sepanjang 2024, hingga menyebabkan kerugian sekitar Rp 35 miliar.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Malang, Sadono Irawan mengatakan bencana terbesar terjadi pada 28 November 2024 lalu. Kejadian tersebut didominasi oleh banjir dan tanah longsor yang tersebar di sejumlah kecamatan, termasuk Bantur, Sumbermanjing Wetan, Pagak, Donomulyo, Ampelgading, Kalipare, dan Kromengan.

"Dari hasil penghitungan PU Bina Marga dan PU SDA yang kami usulkan kemarin, kerusakan infrastruktur sebesar Rp 32,150 miliar. Kerusakan infrastuktur paling tinggi di tahun 2024, itu pada 28 November,” ujar Sadono saat dikonfirmasi, Rabu(22/1/2025).

Berdasarkan laporan BPBD, Sadono mencatat kerusakan infrastruktur termasuk jalan, jembatan, dan tanggul, serta permukiman warga menjadi yang paling terdampak.

Infrastruktur yang rusak parah ini, menurutnya tidak hanya menghambat aktivitas warga tetapi juga mempengaruhi akses logistik dan mobilitas di beberapa daerah terdampak.

Selain itu, Sadono juga merinci kerusakan yang terjadi pada permukiman warga tercatat mencapai Rp 3 miliar. Dari total kerusakan tersebut, terdapat 387 rumah mengalami kerusakan ringan, 34 rumah rusak sedang, dan 16 rumah rusak berat.

Sadono menjelaskan kategori rusak ringan biasanya mencakup kerusakan pada atap rumah yang roboh. Sementara itu, kerusakan sedang melibatkan sebagian besar konstruksi bangunan yang runtuh. Adapun kategori rusak berat, meliputi rumah yang hancur total dan tidak dapat lagi dihuni.

“Bencana ini memberikan dampak yang cukup besar, khususnya bagi warga yang rumahnya berada di kawasan rawan longsor dan banjir. Saat kejadian juga kami terus berupaya melakukan pendataan dan penanganan agar bantuan segera tersalurkan,” jelas Sadono.

Lebih lanjut, Sadono juga menyebutkan total kerugian akibat bencana tahun 2024 meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2023, kerugian di sektor permukiman hanya tercatat sekitar Rp 1 miliar.

Peningkatan ini, sambungnya disebabkan oleh intensitas curah hujan yang lebih tinggi dan fenomena cuaca ekstrem yang terjadi sejak akhir 2024.

"Ya, namanya bencana alam, jadi tidak bisa kita hindari. Tetapi dari situ, mitigasi bencana harus terus diperkuat, terutama di daerah-daerah rawan bencana,” tambahnya.

Dalam upaya memitigasi dampak bencana di 2025 ini, BPBD Kabupaten Malang juga terus mengoptimalkan edukasi kesiapsiagaan masyarakat di kawasan rawan bencana.

Ditambahkan Sadono pihaknya telah mendirikan poslap di 4 wilayah yang memiliki potensi rawan bencana, tersebar di kecamatan Ngantang, Singosari, Tumpang, dan Tirtoyudo.

"Masing-masing poslap memiliki peran vital dalam memonitor kondisi wilayah, serta memberikan respons cepat terhadap setiap kejadian bencana yang terjadi," imbuhnya.

Reporter: Santi Wahyu/Editor: Ais

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.