
MALANG (Lenteratoday) - Dua macan tutul terdeteksi kamera trap yang dipasang oleh Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS) dalam survei populasi satwa liar di kawasan tersebut. Temuan ini menjadi bagian dari penelitian lebih lanjut yang memperkirakan populasi macan tutul di TNBTS mencapai 24 individu. Meski demikian, angka tersebut masih memerlukan survei dan verifikasi ilmiah untuk memastikan keakuratannya.
"Itu dari perkiraan kami di lokasi, keakurasiannya belum bisa dibuktikan. 24 individu itu dilihat dari kamera yang terpasang di beberapa lokasi berbeda. Jadi 24 tadi indikasi secara kasar dan belum meyakini secara ilmiah. Sampai sekarang masih kami lakukan survei secara ilmiah dan hasilnya masih belum keluar," ujar Kepala BB TNBTS, Rudijanta Tjahja Nugraha, Kamis (23/1/2025).
Rudi menjelaskan, kamera trap tersebut telah dipasang sejak 4 bulan terakhir di 40 titik yang tersebar di kawasan TNBTS. Setiap kamera ditempatkan berdasarkan survei pendahuluan, seperti jalur jelajah satwa dan tanda-tanda keberadaan macan tutul, termasuk jejak dan cakaran. "Analisis data memakan waktu panjang karena jumlah foto yang dihasilkan sangat banyak," tambahnya.
Hasil sementara menunjukkan mayoritas macan tutul yang terekam di kawasan TNBTS merupakan macan kumbang atau macan tutul melanistik, yakni macan tutul dengan pigmen hitam dominan pada bulunya. Menurut Rudi, kondisi ini terjadi akibat isolasi populasi dalam jangka waktu lama.
"Isolasi ini mengakibatkan variasi genetik di lanskap TNBTS cukup rendah, karena tidak ada pertambahan genetik dari populasi macan tutul lain. Akibatnya, gen yang meregulasi proses melanisme menjadi dominan, sehingga mayoritas macan tutul di TNBTS berwarna hitam," jelasnya.

Meski populasi macan tutul di TNBTS tampak stabil, ancaman terhadap kelangsungan hidup spesies ini tetap ada. Rudi menyebut perburuan liar dan perubahan habitat sebagai tantangan utama.
Rudi menambahkan, selama ancaman dapat diminimalkan dan pakan mencukupi, macan tutul akan terus berkembang biak. Namun, untuk memastikan kondisi populasi saat ini, pihaknya tengah melakukan survei luas di seluruh Pulau Jawa melalui program Java Wide Leopard Survey (JWLS).
Lebih lanjut, sejauh ini, laporan perjumpaan langsung macan tutul dengan masyarakat sekitar belum banyak diterima oleh pihak TNBTS. Namun, petugas lapangan beberapa kali melihat macan tutul saat patroli.
Rudi menegaskan macan tutul cenderung menghindari manusia, sehingga risiko konflik satwa dengan warga relatif kecil.
"Mereka lebih menghindari orang. Jadi, tidak perlu khawatir macan tutul datang ke pemukiman, kecuali kita yang masuk ke habitat mereka," jelasnya.
Reporter: Santi Wahyu|Editor: Arifin BH