
GAZA (Lenteratoday) -Puluhan ribu warga Palestina berbondong-bondong kembali ke rumah mereka di Gaza, Senin (27/1/2025).
Mereka tahu, rumah-rumah telah hancur akibat perang. Namun, hal itu tak sedikit pun menyurutkan kegembiraan warga Gaza untuk kembali pulang.
"Kami ingin pergi ke reruntuhan rumah, kami ingin hidup semampu kami," kata seorang pria dari Tal al-Hawa, dikutip dari Alhurra News, Senin.
Di seberang jalan, pengungsi lain mengungkapkan harapannya agar kehancuran di Gaza menjadi yang terakhir.
"Kami ingin hidup, semoga ini akan menjadi kehancuran terakhir. Semoga Allah melindungi kami dan menyembuhkan luka kami," ujarnya.
Pada tempat lain, seorang pemuda berusia 19 tahun tampak menenteng beberapa tas di pundaknya.
Pria bernama Ahmad Adas itu mengaku sangat ingin bertemu ibu dan ayahnya setelah 15 bulan berpisah.
"Saya tidak bertemu keluarga saya selama satu setengah tahun. Saya sudah menunggu selama tiga hari untuk pergi ke rumah orang tua saya," kata Adas, dikutip dari Aljazeera, Senin.
Seorang pengungsi Palestina lainnya mengaku tak bisa menggambarkan kebahagiaannya. "Ini adalah hari yang meriah bagi kami. Rasanya seolah-olah kami telah dibangkitkan dan sekarang memasuki surga," jelas pria itu.
"Saya punya satu pesan, 'Kami, orang Palestina adalah pemilik sah tanah ini. Kami tidak akan mengalah. Tekad kami tidak akan goyah," sambungnya, mengutip Kompas.
Kembalinya warga Gaza ini merupakan bagian dari agenda gencatan senjata yang disepakati oleh Israel dan Hamas sejak Minggu (19/1/2025).
Mereka memenuhi Jalan Ar Rasyid dengan membawa secercah harapan baru. Jalan itu selama beberapa bulan terakhir menjadi saksi bisu peperangan mematikan.
Kementerian Dalam Negeri Gaza mengumumkan pembukaan jalan dari kedua arah untuk para warga mulai pukul 7 pagi, dengan larangan semua jenis kendaraan melintas.
Sementara, Jalan Salah El Din dibuka satu arah untuk kendaraan pada pukul 9 pagi dengan pemeriksaan ketat.
Pasukan keamanan AS, Mesir, dan Qatar turut bertanggung jawa untuk mengatur lalu lintas dan kelancaran proses tersebut.
Pada jalanan pesisir Gaza, pergerakan warga terus berlangsung sejak pembukaan pos pemeriksaan pada Senin pagi, setelah pasukan Israel menarik diri.
Otoritas setempat juga mengeluarkan peringatan kepada warga tentang kemungkinan bahaya bahan peledak bekas peperangan.
Dengan lebih dari satu juta pengungsi kembali ke Gaza utara, ada kebutuhan mendesak akan tenda sebagai tempat berlindung sementara.
Editor: Arifin BH