03 April 2025

Get In Touch

Kisah 39 Tahun Pelaut Sidoarjo dan Kegelisahan soal HGB di Laut

Persiapan Subagiyo menjelang melaut di Perairan Sidoarjo. Ia termasuk nelayan yang resah mendengar kabar ada HGB di laut (Kompas)
Persiapan Subagiyo menjelang melaut di Perairan Sidoarjo. Ia termasuk nelayan yang resah mendengar kabar ada HGB di laut (Kompas)

SURABAYA (Lenteratoday) -Selama 39 tahun, perairan Sidoarjo telah menjadi saksi bisu perjalanan hidup Subagiyo (52) sebagai nelayan. 

Kini, pada usianya yang tidak lagi muda, ia harus menghadapi kenyataan bahwa "rumah keduanya" terancam Hak Guna Bangunan (HGB).

"Saya mulai melaut dari tahun 1986. Kira-kira 39 tahunan lah," ujarnya saat sore di Banjar Kemuning, Sedati, Sidoarjo.

Di balik sosoknya yang tenang, tersimpan kegelisahan mendalam. 

Pria yang akrab disapa Subagiyo ini mengaku baru mendengar soal adanya HGB di perairan Sidoarjo dari pemberitaan media. 

Selama ini, katanya, tidak ada pembagian wilayah khusus di laut tempat ia mencari nafkah.

"Ya, saat melaut bantuan (navigasi) saya adalah dispender dan GPS. Untuk pembagian wilayah selama ini nggak ada. Nelayan bebas saja kok," ujarnya sambil menunjukkan peralatan navigasi yang setia menemaninya selama berlayar.

Subagiyo menegaskan, di kawasan Banjar Kemuning, tempat ia biasa melaut, belum ada tanda-tanda kehadiran HGB yang ramai diperbincangkan. 

"Soal HGB-HGB itu jujur di daerah Banjar Kemuning nggak ada, kalau di Segoro Tambak juga nggak tahu persis, kan kalau di berita memang di situ," ungkapnya.

Yang membuatnya heran, tidak ada sosialisasi apa pun kepada para nelayan terkait rencana pengelolaan laut oleh pihak swasta, jika persoalan itu benar terjadi. 

"Nggak ada sosialisasi-sosialisasi gitu di sini. Misal ada perusahaan yang mau nggusur, itu nggak ada," tuturnya dengan nada khawatir.

Bagi Subagiyo dan rekan-rekan nelayan lainnya, laut bukan sekadar tempat mencari ikan. Laut adalah sumber penghidupan yang telah menghidupi keluarga mereka dari generasi ke generasi. 

"Jadi soal pengelola-pengelolaan itu jujur tidak ada, ya kita ini yang mengelolanya, nelayan," tegasnya.

Kegelisahan Subagiyo bukan tanpa alasan. Bayangan akan tertutupnya akses ke laut membuat ia dan rekan-rekan nelayan siap mengambil sikap. 

"Ya, kami jelas akan protes (kalau ada pihak yang menutup laut). Wong kami sudah bertahun-tahun cari makan dari sini," ucapnya dengan tegas.

Di tengah ketidakpastian ini, Subagiyo justru memiliki harapan yang bertolak belakang dengan wacana HGB. Menurutnya, laut seharusnya semakin dilestarikan, bukan malah "diapa-apakan".

"Saya pesan ya laut harusnya semakin dilestarikan, ditanami apa itu, terumbu karang. Bukan malah diapa-apakan," pintanya dikutip Kompas.

Dari caranya berbicara, tersirat kearifan seorang pelaut yang telah menghabiskan hampir empat dekade hidupnya di laut. 

Baginya, laut bukan komoditas yang bisa diperjualbelikan atau dimiliki segelintir pihak. Laut adalah warisan bersama yang harus dijaga untuk generasi mendatang.

Kisah Subagiyo adalah potret kegelisahan nelayan tradisional di tengah arus modernisasi dan komersialisasi laut. 

Suaranya mewakili ribuan nelayan lain yang nasibnya kini terombang-ambing di tengah ketidakpastian kebijakan HGB di laut (*)

Editor: Arifin BH

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.