Guru Besar UB Gagas Model RaBaSATI, Upaya Meluasnya Alih Fungsi Hutan Jadi Lahan Pertanian

MALANG (Lenteratoday) - Alih fungsi hutan menjadi lahan pertanian dapat mengancam kelestarian lingkungan dan meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor.
Menyikapi persoalan ini, Guru Besar Universitas Brawijaya (UB), Prof. Syahrul Kurniawan, S.P., M.P., Ph.D., menggagas Model Rancang Bangun Sistem Agroforestri dan Iklim (RaBaSATI) sebagai solusi untuk menyeimbangkan kepentingan ekonomi petani dengan upaya konservasi lingkungan.
Konsep inovatif ini akan dipaparkan Prof. Syahrul dalam pidato ilmiah pengukuhannya sebagai profesor aktif ke-33 di Fakultas Pertanian UB pada Kamis (30/1/2025). Menurutnya, RaBaSATI berorientasi pada pembangunan berkelanjutan dengan menekan laju deforestasi atau degradasi hutan, tanpa mengorbankan produktivitas pertanian masyarakat.
"Ketika hutan dibuka, tutupan tanah menjadi terbuka. Saat musim hujan, air hujan yang tidak terserap akan langsung mengalir di permukaan dan menyebabkan erosi. Jika air dengan sedimen ini masuk ke sungai, maka kualitas air menurun. Selain itu, limpasan air yang tinggi meningkatkan risiko banjir dan longsor," ujar Prof. Syahrul, Rabu (29/1/2025).
Untuk mengatasi hal tersebut, sistem agroforestri menjadi solusi yang ditawarkan. Agroforestri merupakan sistem pengelolaan lahan yang mengintegrasikan tanaman pertanian dengan pohon-pohon kehutanan sehingga tetap menjaga fungsi ekologis hutan.
Sebagai contoh penerapan, Prof. Syahrul mengaku telah mengambil studi kasus lahan kering di Nusa Tenggara Barat (NTB), di mana banyak kawasan hutan telah dikonversi menjadi lahan pertanian tanaman semusim. Namun melalui model RaBaSATI, petani tetap dapat menanam tanaman pertanian, dengan kombinasi pohon kehutanan yang mampu meningkatkan serapan air dan mencegah degradasi tanah.
"Model ini menggabungkan tata kelola sosial dengan keterlibatan aktif petani hutan, mulai dari perancangan agroforestri, pemilihan jenis tanaman yang sesuai, kelembagaan, hilirisasi produk, hingga pengembangan jejaring pemasaran," jelasnya.
Dari aspek teknik, RaBaSATI juga menawarkan pendekatan berbasis rekayasa ekologi, seperti pemilihan jenis tanaman yang sesuai dengan kondisi lahan, penerapan sistem irigasi hemat air, serta manajemen pemupukan untuk menjaga kesuburan tanah.
Lebih lanjut, agar dapat diimplementasikan secara luas, Prof. Syahrul menekankan perlunya dukungan dari pemerintah dan lintas sektor dalam mengarusutamakan sistem agroforestri. Menurutnya, perlu ada insentif bagi petani yang menerapkan sistem ini, termasuk bantuan bibit unggul dari berbagai jenis pohon buah-buahan atau pohon kayu yang bernilai ekonomi.
"Kunci keberhasilannya juga perlu ada peningkatan kapasitas petani dalam manajemen pohon dan tanah agar mereka bisa mendapatkan manfaat ekonomi tanpa merusak lingkungan," terangnya.
Sebagai informasi, selain Prof. Syahrul, tiga akademisi UB lainnya juga akan dikukuhkan sebagai profesor pada Kamis (30/1/2025). Diantaranya, yakni Prof. Dr. Aulia Fuad Rahman, S.E., M.Si., Ak., sebagai profesor aktif ke-29 di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Prof. Barlah Rumhayati, S.Si., M.Si., Ph.D., sebagai profesor aktif ke-32 di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA), serta Prof. Dr. Ir. Solimun, M.S., yang menjadi profesor aktif ke-33 di Fakultas MIPA UB.
Reporter: Santi Wahyu|Editor: Arifin BH