04 April 2025

Get In Touch

Waspadai Permainan Harga Pangan, DPRD Surabaya Minta Pemkot Perkuat Sinergi Antarkota

Anggota Komisi B DPRD Surabaya dari Fraksi Golkar Agoeng Prasodjo. (Amanah/Lenteratoday)
Anggota Komisi B DPRD Surabaya dari Fraksi Golkar Agoeng Prasodjo. (Amanah/Lenteratoday)

SURABAYA (Lentera)– Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menjamin ketersediaan stok pangan selama tiga bulan ke depan. 

Meski demikian, Anggota Komisi B DPRD Surabaya, Agoeng Prasodjo, mengingatkan pemkot untuk mewaspadai potensi permainan harga di pasar.

Menurutnya, Pemkot perlu memperkuat sinergi dengan daerah-daerah penghasil pangan agar  distribusi berjalan lancar tanpa campur tangan pihak ketiga.

"Meskipun stok kita aman, kolaborasi antar kota dan kabupaten tetap harus dijaga. Surabaya ini bukan kota agraris, kita bergantung pada pasokan dari daerah lain. Contohnya cabai, nggak mungkin kita stok cabai sendiri, pasti ambil dari kota lain," kata Agoeng ketika ditemui di ruangannya, Kamis (6/2/2025).

Politisi dari Fraksi Golkar ini menyebut, kerjasama antar pemerintah harus dilakukan langsung dari dinas perdagangan Surabaya ke dinas perdagangan di kota atau kabupaten penghasil pangan. 

"Kalau lewat pihak ketiga atau swasta, pasti ada keuntungan di sana. Itu yang harus dihindari karena bisa membuka celah permainan harga. Banyak petani yang sudah menjual hasil panennya jauh-jauh hari. Akibatnya, harga di pasar bisa melonjak karena sudah dikuasai tengkulak," sebutnya. 

Selain mengandalkan kerjasama antar daerah, Agoeng juga mendorong Pemkot untuk mengembangkan urban farming di lahan-lahan kosong milik pemerintah. 

Menurutnya, potensi ini belum dimaksimalkan, padahal bisa menjadi salah satu solusi memperkuat ketahanan pangan di kota Pahlawan.

"Surabaya punya ribuan lahan kosong yang bisa dimanfaatkan. Kalau belum dipakai, kenapa tidak diberikan kepada petani urban. Hasilnya nanti bisa dibeli untuk memenuhi kebutuhan pangan kita sendiri," ujarnya.

Agoeng mengatakan beberapa tanaman yang cocok dibudidayakan di kota yakni tomat, sawi, kangkung, dan pisang. "Tanaman-tanaman ini mudah tumbuh di mana saja, bahkan bisa hidup tanpa perawatan khusus," kata Agoeng. 

Tak hanya itu, ia juga menyoroti pentingnya memberikan ruang bagi padat karya di sektor pertanian dan perikanan sebagai langkah nyata mendukung ketahanan pangan. 

"Dinas terkait bisa memfasilitasi, misalnya memberikan benih gratis kepada petani kota atau pelaku usaha perikanan kecil. Ini bisa jadi program padat karya yang hasilnya benar-benar berdampak bagi masyarakat Surabaya," tutupnya.

Reporter: Amanah/Co-Editor: Nei-Dya
 

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.