
SURABAYA (Lentera) – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menemukan minyak goreng merk MinyaKita yang didistribusikan oleh CV Sawit Makmur tidak sesuai takaran, saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) bahan pokok penting (Bapokting) di Pasar Soponyono.
Dari hasil temuan tersebut, minyak goreng bersubsidi yang diluncurkan pemerintah itu hanya berisi 960 Mililiter (ml), padahal di dalam kemasan tertulis 1 liter atau setara 1000 ml.
“Ini ditemukan 1 liter kurang 40 ml untuk kemasan yang botol. Dimana harusnya memiliki takaran sesuai, karena ini didistribusikan oleh pabrik yang otomatis sudah memakai alat ukur otomatis,” Ketua Tim Kerja Pengendalian dan Distribusi Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam (BPSDA) Kota Surabaya, Agung Supriyo Wibowo, Rabu (12/3/2025).
Terkait temuan tersebut, pihaknya mengaku akan berkoordinasi dengan pihak Kepolisian untuk penanganan lebih lanjut.
“Kalau kami sifatnya imbauan, untuk temuan MinyaKita akan berkoordinasi dengan pihak Kepolisian. Begitu pula, kalau ada temuan barang kadaluarsa di pasar modern juga akan dikumpulkan dan diserahkan ke Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM),” sebutnya.
Terkait kecukupan bahan pangan menjelang Lebaran, Agung menyebut jika di Kota Surabaya masih sangat cukup. Sebab, Indeks Kecukupan Pangan (IKP) sebesar 3,8 yang artinya ketersedian bahan pangan cukup untuk tiga bulan ke depan.
“InsyaAllah bahan pangan di Kota Pahlawan masih cukup untuk tiga bulan ke depan. Kami imbau kepada masyarakat untuk tidak panic buying dan berbelanja sesuai kebutuhan,” sebutnya.
Agung menuturkan, sidak kali ini untuk memeriksa keamanan, harga serta ketersedian stok bahan pangan di pasar tradisional maupun modern saat bulan Ramadan. “Untuk itu kami lakukan sidak agar dapat memetakan dimana operasi pasar dilakukan,” katanya.
Agung mengungkapkan ada komoditas yang mengalami kenaikan dan penurunan harga. Pertama adalah cabai yang mulai mengalami penurunan dari Rp 100 ribu menjadi Rp 80 ribu per kilogram. Kemudian, untuk harga bawang mengalami kenaikan dari Rp 45 ribu menjadi Rp 50 ribu perkilogramnya.
“Jadi ada beberapa yang turun dan mengalami sedikit kenaikan harga. Untuk komoditas yang mengalami kenaikan kami pantau terus agar tidak terjadi lonjakan harga yang signifikan,” tutupnya. (*)
Reporter: Amanah | Editor : Lutfiyu Handi