04 April 2025

Get In Touch

Dosen PCU Jelaskan Konsep ‘Sponge City’ untuk Mengatasi Masalah Banjir

Dosen Architecture Petra Christian University (PCU), Timoticin Kwanda, B.Sc., MRP.,Ph.D.
Dosen Architecture Petra Christian University (PCU), Timoticin Kwanda, B.Sc., MRP.,Ph.D.

SURABAYA (Lentera) -Dosen Architecture Petra Christian University (PCU), Timoticin Kwanda, B.Sc., MRP.,Ph.D. mengungkapkan persoalan banjir harus dilihat secara menyeluruh.

“Banjir adalah masalah yang menyeluruh. Misalnya di Jakarta, jika resapan air di daerah tertentu tidak dapat menampung air hujan, maka air tersebut akan mengalir ke kawasan yang lebih rendah,” ungkapnya, Senin (17/3/2025).

Selain hujan lebat, faktor air pasang laut (rob) juga berperan besar dalam memperburuk banjir, terutama bagi kota-kota yang berada di daerah pesisir.

“Air pasang akan mengalir ke sungai dan daratan. Ketika hujan datang, sungai meluap, air hujan tidak dapat mengalir ke laut melalui sungai, maka banjir pun terjadi,” tuturnya.

Ia mengatakan pentingnya memperhatikan desain tata ruang kota dan pengelolaan saluran air. Beberapa kota besar di dunia termasuk IKN Nusantara sudah mulai mengimplementasikan solusi berbasis konsep Sponge City guna mengurangi dampak banjir.

“Konsep ini bertujuan untuk meningkatkan penyerapan air hujan dengan mengutamakan elemen-elemen seperti taman terbuka, danau penampungan air hujan atau bozem, drainase yang menyerap air, dan penggunaan green roofs pada bangunan,” tambahnya.

Ia mencontohkan, fi Surabaya misalnya, danau buatan dan kanal-kanal dibangun untuk menampung air hujan dan mencegah banjir.

“Saluran air dari bangunan-bangunan tidak langsung dibuang ke sungai, tetapi ke kanal. Air ini kemudian disalurkan ke danau buatan dan dibuang ke laut setelah air pasang surut,” jelas dosen yang mengajar Konservasi Cagar Budaya Arsitektur di program Magister Architecture Petra Christian University ini.

Timoticin melanjutkan, bangunan-bangunan tinggi di Surabaya kebanyakan juga sudah menerapkan sistem ‘harvesting tank’.

“Hal ini sesuai dengan Perwali Analisis Dampak Lingkungan Drainase. Harvesting tank, atau penampungan air hujan, merupakan sistem di mana air hujan akan ditampung di suatu ‘wadahʼ sebelum dibuang ke saluran kota. Hal ini bisa mengurangi beban pada saluran drainase kota,” ujarnya.

Solusi berikutnya yang juga relevan, adalah penggunaan green roof, yakni penutupan permukaan atap dengan vegetasi atau media tumbuhan pada bangunan.

“Atap bangunan yang dirancang dengan green roof dapat menyerap air hujan dan mengurangi jumlah air yang mengalir ke saluran drainase,” urai dosen dengan kepakaran di bidang tata ruang kota itu.

Timoticin menegaskan, di tengah pesatnya
pembangunan, perencanaan kota harus fokus pada penyerapan air dan pengelolaan saluran air yang efisien, selain pembangunan gedung dan jalan.

“Konsep Sponge City perlu menjadi bagian dari strategi pembangunan kota-kota besar di Indonesia. Penerapan solusi berbasis arsitektur hijau ini, seperti desain bangunan dan tata ruang yang memaksimalkan resapan air hujan, dapat membantu mengurangi dampak banjir,” tutupnya.

Reporter: Amanah|Editor: Arifin BH

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.