07 January 2026

Get In Touch

Kaleidoskop Tekno-Sains 2025: 5 Temuan Arkeologi Spektakuler

Kaleidoskop Tekno-Sains 2025: 5 Temuan Arkeologi Spektakuler

SURABAYA ( LENTERA ) - Tahun 2025 menjadi saksi bisu bagaimana teknologi modern dan penggalian tradisional bersatu mengungkap rahasia yang terkubur ribuan tahun. Mulai dari makam raja yang hilang di hutan Belize hingga pemetaan kapal perang di dasar laut, penemuan arkeologi 2025 memberikan perspektif baru tentang sejarah peradaban manusia.

Penggunaan sekuensing DNA kuno, citra satelit, hingga pemetaan bawah air telah mengubah cara ilmuwan bekerja. Namun, banyak penemuan terbesar tahun ini tetap berawal dari penggalian klasik yang penuh kesabaran.

Berikut adalah penemuan arkeologi paling menarik yang memukau dunia sepanjang tahun ini.

Makam Raja Pendiri Dinasti Maya di Belize

Setelah hampir 40 tahun menggali di hutan Belize, arkeolog Arlen dan Diane Chase menemukan sebuah makam kerajaan berusia 1.700 tahun.  Makam ini diduga milik Te K’ab Chaak, penguasa legendaris yang mendirikan dinasti Maya yang berkuasa selama 500 tahun.

Di dalamnya, ditemukan topeng kematian mosaik dari batu giok dan cangkang, serta perhiasan giok yang menakjubkan.  Temuan ini menjadi kunci penting dalam memahami hubungan antara suku Maya dengan kota besar Teotihuacan.

Pelabuhan Tenggelam dan Teka-teki Makam Cleopatra

Tahun ini, para arkeolog juga membuat penemuan yang mungkin dapat membantu melacak keberadaan makam Ratu Cleopatra. Selama dua dekade, penjelajah National Geographic, Kathleen Martínez, telah mencari tempat peristirahatan terakhir Cleopatra—bukan di Aleksandria, tempat yang diyakini sebagian besar pakar sebagai lokasi pemakamannya, melainkan di sebuah kuil yang kurang dikenal di dekatnya bernama Taposiris Magna.

Pencariannya telah membawanya ke Laut Mediterania, di mana ia dan timnya menemukan sebuah pelabuhan tenggelam yang berasal dari era sang ratu.  Para penyelam yang dipimpin oleh penjelajah National Geographic, Bob Ballard, memetakan lantai-lantai yang terpoles, pilar-pilar raksasa yang menjulang, serta jangkar-jangkar di bawah permukaan ombak.

Temuan ini, yang ditampilkan dalam dokumenter National Geographic berjudul Cleopatra’s Final Secret, mengubah pandangan terhadap Taposiris Magna sebagai pusat maritim yang penting sekaligus pusat keagamaan. Menurut Martinez, temuan tersebut memperkuat argumen bahwa Cleopatra memilih lokasi itu untuk makamnya. Apakah jenazahnya benar-benar terbaring di suatu tempat di lepas pantai, merupakan pertanyaan yang hanya bisa dijawab melalui eksplorasi lebih lanjut.

Kuburan Kapal Perang Dunia II di Kepulauan Solomon

Selain upayanya mencari Cleopatra, Ballard juga memimpin ekspedisi laut dalam ke Iron Bottom Sound di Kepulauan Solomon pada bulan Juli untuk mengeksplorasi kapal-kapal Perang Dunia II yang karam. Dasar laut di sana merupakan "makam" yang sunyi bagi lebih dari seratus kapal Sekutu dan Jepang yang hancur selama Pertempuran Guadalcanal.

Beberapa di antaranya bahkan belum pernah terlihat lagi sejak tahun 1940-an. Dalam ekspedisi ini, Ballard dan timnya di atas kapal E/V Nautilus menggunakan ROV (wahana kendali jarak jauh) untuk mensurvei 13 bangkai kapal, termasuk kapal perusak Angkatan Laut Kekaisaran Jepang, Teruzuki, dan bagian haluan yang hancur dari kapal AS, U.S.S. New Orleans.

Tim tersebut juga mengunjungi kembali kapal penjelajah Australia, HMAS Canberra, yang tenggelam dalam Pertempuran Pulau Savo yang mengerikan, serta memeriksa sisa-sisa reruntuhan U.S.S. DeHaven, salah satu kapal terakhir yang hilang dalam pertempuran Guadalcanal. Eksplorasi ini menyoroti sejarah taktis Perang Pasifik sekaligus pengorbanan manusia yang sangat besar: lebih dari 27.000 nyawa melayang dalam perjuangan selama enam bulan memperebutkan Guadalcanal.

Makam Firaun Thutmose II yang Hilang

Makam Raja Thutmose II sempat luput dari pencarian para arkeolog selama lebih dari satu abad, sebelum akhirnya tim gabungan dari Inggris dan Mesir mengumumkan penemuannya pada Februari lalu. Thutmose II, yang beristrikan saudara tirinya, ratu ternama (yang kemudian menjadi firaun) Hatshepsut, memerintah pada tahun 1493 hingga 1479 SM, di masa awal Dinasti ke-18. Ini merupakan makam kerajaan pertama yang ditemukan di dekat Lembah Para Raja yang mahsyur di dekat Luxor, sejak penemuan makam Raja Tutankhamun. Di dalamnya, para arkeolog menemukan dinding-dinding yang dihiasi pahatan hieroglif serta langit-langit yang dicat dengan pemandangan angkasa yang indah.

Penelitian mendalam terhadap megastruktur di Andes menulis ulang sejarah kehidupan masyarakat pegunungan kuno. Di sepanjang pegunungan Andes, manusia pernah merekayasa seluruh lanskap untuk mengoordinasikan perdagangan, menghitung upeti, hingga menangkap mangsa yang gesit. Di Peru, para peneliti kemungkinan akhirnya berhasil memecahkan misteri ribuan lubang yang dikenal sebagai "Band of Holes" di lereng gunung terpencil bernama Monte Sierpe, atau "Gunung Ular."

Mereka menduga sekitar 5.000 lubang tersebut digunakan sebagai pasar dan sistem akuntansi oleh masyarakat Chincha, yang kemudian diperluas oleh suku Inka. Belakangan ini, para peneliti menggunakan drone untuk melihat lubang tersebut dari ketinggian.

Pemetaan drone serta analisis sisa-sisa tanaman menunjukkan bahwa lubang-lubang itu dulunya berisi keranjang barang dan kemungkinan terhubung dengan metode penghitungan kuno menggunakan tali simpul yang disebut "khipus." Jauh ke arah selatan di Cekungan Sungai Camarones, Chile, citra satelit memandu seorang arkeolog menemukan 76 struktur batu berbentuk V yang diyakini sebagai "chacu" atau jebakan berburu berskala besar.

Masyarakat kuno yang tinggal di sana menggunakan dinding batu sepanjang 150 meter untuk menggiring vicuña liar—hewan kecil mirip llama—ke dalam kandang melingkar untuk disembelih. Kedua penemuan ini menggambarkan bagaimana masyarakat Andes kuno membentuk bentang alam selama turun-temurun demi memenuhi kebutuhan hidup mereka.(ist,kcm/dya)

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.