MALANG (Lentera) - Revitalisasi Alun-alun Merdeka Kota Malang ditargetkan rampung akhir Januari 2026, memperbarui sejumlah fasilitas taman juga menghadirkan toilet yang diperbesar serta penambahan ruang laktasi untuk meningkatkan kenyamanan pengunjung khususnya keluarga.
"Jumlah toilet tetap dua, tetapi diperbesar dan ditambah ruang laktasi. Karena pengunjung Alun-alun ini kan banyak keluarga, ibu-ibu juga selama ini kebingungan (mencari ruang laktasi). Jadi kami tambahkan fasilitas tersebut," ujar Pelaksana Harian (Plh) Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang, Gamaliel Raymond Matondang ditemui di Balai Kota Malang, Senin (5/1/2025).
Ditambahkannya, salah satu progres signifikan terlihat pada area playground yang kini telah terpasang seluruhnya. Selain itu, pekerjaan air mancur juga telah memasuki tahap akhir setelah dilakukan penggantian secara total.
"Untuk setting air mancur juga sudah, tinggal pemasangan alatnya. Air mancurnya memang diganti total," tambahnya.
Selain itu, pekerjaan lain yang masih berjalan meliputi perbaikan lampu-lampu taman, serta finalisasi empat bangunan di sudut kawasan Alun-alun. Bangunan tersebut akan dikembalikan ke warna semula seperti sebelum adanya bantuan revitalisasi sebelumnya.
Raymond menjelaskan, secara keseluruhan revitalisasi Alun-alun Merdeka diharapkan dapat diselesaikan pada akhir Januari sesuai dengan perencanaan awal. Namun, untuk waktu pembukaan kawasan tersebut, pihaknya masih menunggu arahan lebih lanjut dari Wali Kota Malang.
Menurutnya, setelah pengerjaan selesai, pihak Bank Jatim selaku pemberi bantuan melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) akan menyerahkan hasil revitalisasi kepada DLH Kota Malang. Selanjutnya, DLH akan melakukan pengecekan ulang terhadap seluruh fasilitas sebelum Alun-alun Merdeka dibuka kembali untuk umum.
"Kalau sudah diserahkan dari Bank Jatim ke DLH, baru kami proses pengecekan ulang. Setelah itu baru pembukaan sesuai dengan petunjuk Pak Wali," jelasnya.
Lebih lanjut, disinggung terkait keberadaan pedagang kaki lima (PKL), Raymond menegaskan Alun-alun Merdeka pada prinsipnya harus steril dari aktivitas berjualan sesuai dengan peraturan daerah yang berlaku. Hal itu, menurutnya, telah terbukti selama masa revitalisasi berlangsung.
"Buktinya, selama revitalisasi ini kan tidak ada PKL dan ternyata bisa," tegasnya.
Meski demikian, Raymond menyebutkan pihaknya tetap membuka ruang pembahasan lebih lanjut melalui rapat koordinasi lintas pihak. Harapannya, dapat disiapkan lokasi khusus bagi PKL agar tidak mengganggu estetika dan fungsi Alun-alun Merdeka sebagai ruang publik.
Untuk diketahui, berdasarkan data DLH Kota Malang, Raymond menyebut data kunjungan Alun-alun Merdeka pada akhir pekan biasanya mencapai sekitar 2.000 orang per hari, sementara pada hari biasa rata-rata kurang dari 500 orang.
Reporter: Santi Wahyu/Editor: Ais





