10 January 2026

Get In Touch

Sepanjang 2025, Dispangtan Kota Malang Gelar 100 Kali Gerakan Pangan Murah

Kepala Dispangtan Kota Malang, Slamet Husnan. (Santi/Lentera)
Kepala Dispangtan Kota Malang, Slamet Husnan. (Santi/Lentera)

MALANG (Lentera) - Sepanjang 2025 Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Malang menggelar 100 kali Gerakan Pangan Murah (GPM), dengan menyalurkan ratusan ton bahan pokok sebagai upaya pengendalian harga dan pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat.

"Total pelaksanaan GPM sepanjang 2025 itu ada 100 kali. Terakhir kami laksanakan pada 31 Desember kemarin," ujar Kepala Dispangtan Kota Malang, Slamet Husnan, dikonfirmasi melalui pesan singkat, Selasa (6/1/2026).

Selama 100 kali pelaksanaan GPM tersebut, Dispangtan menyalurkan berbagai komoditas pangan strategis dalam jumlah besar. Komoditas yang disalurkan meliputi beras, gula, telur ayam ras, hingga minyak goreng yang menjadi kebutuhan utama masyarakat sehari-hari.

Slamet merinci, sepanjang 2025 GPM telah menyalurkan beras sebanyak 408 ton dan gula pasir mencapai 69 ton. Selain itu, telur ayam ras yang didistribusikan melalui GPM tercatat sebanyak 33 ton, sedangkan daging ayam sebanyak 0,5 ton.

Tidak hanya itu, komoditas hortikultura juga menjadi bagian dari GPM. Disebutkannya, bawang merah yang disalurkan mencapai 4,5 ton, bawang putih 7,7 ton, cabai rawit 1,75 ton, serta cabai merah sebanyak 1,5 ton. Sementara untuk minyak goreng, jumlah yang disalurkan mencapai 127.500 liter.

"Dalam pelaksanaannya, kami juga menggandeng sejumlah mitra dan vendor. Kerja sama dilakukan dengan Perumda Tugu Aneka Usaha (Tunas), Perum Bulog, Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Kota Malang, serta Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (PINSAR)," kata Slamet.

Lebih lanjut, Slamet menyebut fokus utama GPM adalah menjaga stabilisasi pasokan dan stabilisasi harga pangan di Kota Malang. Menurutnya, Dispangtan mengampu indikator kinerja utama berupa Indeks Ketahanan Pangan.

Indeks tersebut mencakup tiga aspek utama, yakni ketersediaan, keterjangkauan, dan pemanfaatan pangan oleh masyarakat.

"Ketersediaan itu berkaitan dengan produksi dan stok pangan. Keterjangkauan lebih pada harga dan kemudahan akses masyarakat. Sedangkan pemanfaatan berkaitan dengan bagaimana pangan itu digunakan secara optimal," terangnya.

Slamet menambahkan, selama pelaksanaan GPM 2025, respon masyarakat dinilai cukup tinggi. Salah satu indikator yang digunakan untuk melihat animo masyarakat adalah omzet penjualan yang tercatat pada setiap pelaksanaan GPM.

Menurutnya, tingkat kehadiran masyarakat juga dipengaruhi oleh seberapa luas informasi jadwal GPM tersampaikan kepada warga. "Biasanya masyarakat ramai datang pada pukul 08.00 sampai 10.00 WIB," ungkapnya.

Selain harga yang lebih murah, kedekatan lokasi GPM dengan tempat tinggal warga juga diklaim menjadi alasan antusiasme masyarakat. Slamet menyebut, tidak sedikit warga yang berharap agar Gerakan Pangan Murah dapat dilaksanakan lebih sering di wilayah permukiman.

"Warga senang karena lokasinya dekat dan membantu kebutuhan sehari-hari. Harapannya, GPM ini bisa terus dilakukan secara rutin," pungkasnya.

 

Reporter: Santi Wahyu/Editor: Ais

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.