09 January 2026

Get In Touch

Senjata Laser Terbaru Jepang: Bisa Potong Logam dan Jatuhkan Drone

SENJATA LASER JEPANG - Tangkap layar YouTube AGCハッチ 3 Desember 2025, memperlihatkan ilustrasi sistem senjata laser yang menembak pesawat tak berawak. Jepang sedang menguji sistem senjata laser berkekuatan 100 kilowatt hasil riset lebih dari satu dekade.
SENJATA LASER JEPANG - Tangkap layar YouTube AGCハッチ 3 Desember 2025, memperlihatkan ilustrasi sistem senjata laser yang menembak pesawat tak berawak. Jepang sedang menguji sistem senjata laser berkekuatan 100 kilowatt hasil riset lebih dari satu dekade.

SURABAYA ( LENTERA ) - Jepang kembali menunjukkan keseriusannya dalam pengembangan teknologi pertahanan mutakhir. Negeri Sakura itu kini tengah menguji senjata laser berdaya tinggi 100 kilowatt, sebuah sistem persenjataan berbasis energi terarah (directed-energy weapon) yang diklaim mampu melumpuhkan drone, menembus logam, hingga menghancurkan sasaran di udara saat masih melayang.

Senjata laser ini telah dipasang di atas kapal uji JS Asuka, sebuah kapal perang seberat 6.200 ton milik Angkatan Laut Jepang. Dalam waktu dekat, sistem tersebut akan menjalani uji coba perdana di laut terbuka, untuk melihat kemampuannya dalam kondisi maritim yang sesungguhnya.

Berbeda dengan senjata konvensional, sistem ini bekerja dengan menggabungkan 10 unit laser fiber, masing-masing berdaya 10 kilowatt, menjadi satu sinar laser terpadu berkekuatan total 100 kilowatt. Daya sebesar ini cukup untuk memanaskan dan membakar permukaan logam, sekaligus menghancurkan target ringan seperti drone dan amunisi mortir.

Teknologi yang digunakan adalah laser fiber, di mana cahaya diperkuat dan difokuskan melalui serat optik padat yang didoping unsur tanah jarang. Desainnya secara khusus ditujukan untuk menghadapi ancaman udara ringan, termasuk drone, proyektil mortir, dan wahana udara tak berawak lainnya.

Pada 2 Desember, Badan Akuisisi, Teknologi, dan Logistik Jepang (ATLA) mengonfirmasi bahwa sistem laser tersebut telah berhasil dipasang di kapal uji JS Asuka, setelah tiba di galangan kapal Japan Marine United. Sistem ini dikemas dalam dua modul berkubah berukuran 40 kaki (sekitar 12 meter).

Menurut akun YouTube pemantau teknologi militer Jepang, @AGChatch, uji coba laut pertama dijadwalkan berlangsung setelah 27 Februari 2026. Uji ini akan menjadi momen krusial untuk menilai performa senjata laser di tengah tantangan lingkungan laut.

Pengembangan senjata laser ini telah berlangsung sejak 2018, dengan prototipe resmi diserahkan oleh Kawasaki Heavy Industries kepada ATLA pada Februari 2023. Dalam pengarahan resmi saat kapal sandar, pejabat ATLA menyampaikan keunggulan utama sistem ini. “Selama pasokan listrik mencukupi, sistem ini dapat terus menyerang target tanpa kehabisan amunisi,” demikian pernyataan ATLA, dikutip dari The Asia Live.

Konsep ini dikenal sebagai “unlimited magazine depth”, di mana batasan penggunaan senjata bukan lagi jumlah peluru, melainkan ketersediaan energi listrik. Selain itu, biaya per tembakan disebut jauh lebih murah dibandingkan sistem pertahanan udara konvensional berbasis rudal.

ATLA juga mengonfirmasi bahwa dalam uji coba darat awal tahun ini, senjata laser tersebut berhasil menghancurkan drone dan peluru mortir secara efektif.

Meski menjanjikan, jalan menuju operasional penuh masih panjang. Uji coba di laut akan menghadapkan sistem ini pada tantangan nyata, seperti angin kencang, kelembapan tinggi, pantulan cahaya, hingga gelombang laut yang membuat dek kapal terus bergoyang.

Laser harus mampu mempertahankan fokus pada target di tengah kondisi tersebut, sekaligus mengatasi hamburan cahaya atmosfer yang bisa mengurangi efektivitas tembakan. Selain itu, teknologi directed-energy weapon masih menghadapi kendala mendasar.

Sistem ini membutuhkan daya listrik besar, pendinginan intensif, serta waktu pengisian ulang yang tidak singkat. Bahkan dalam kondisi ideal, efisiensi laser fiber umumnya hanya sekitar 25–35 persen, tantangan serius bagi platform laut yang memiliki keterbatasan daya.

Pejabat ATLA menegaskan bahwa penempatan operasional masih membutuhkan waktu bertahun-tahun. Namun, uji coba ini penting untuk mengevaluasi kemungkinan pengembangan laser berdaya lebih besar, bahkan untuk misi ambisius seperti mencegat rudal di masa depan.

Dengan proyek ini, Jepang resmi bergabung dengan negara-negara seperti Amerika Serikat, Inggris, Prancis, dan Jerman yang telah lebih dulu mengembangkan senjata energi terarah.

China juga diduga berada di jalur serupa, setelah foto sebuah sistem laser di kapal amfibi China beredar di media sosial pada 2024. Saat ini, satu-satunya rencana penempatan senjata laser laut yang diumumkan secara publik adalah pada kapal perang Jepang yang dilengkapi sistem pertahanan Aegis, sebagaimana dilaporkan Naval News.

Kapal-kapal tersebut diperkirakan baru akan beroperasi setelah 2032. Sebagai perbandingan, Inggris telah lebih dulu menguji sistem laser “DragonFire”, yang pada 2023–2024 berhasil menjatuhkan drone dalam uji lapangan di Kepulauan Hebrides, Skotlandia.

Sementara itu, pada akhir 2024, ilmuwan China mengklaim telah mengembangkan senjata gelombang mikro berdaya tinggi yang mampu memusatkan energi elektromagnetik ke satu target. Perkembangan ini menandai era baru persenjataan modern, di mana kecepatan cahaya, bukan lagi proyektil fisik, menjadi penentu di medan perang masa depan. (ist,kcm/dya)

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.