11 January 2026

Get In Touch

Catatan Kelam Eksplorasi Antariksa 2025: Deretan Misi Gagal di Berbagai Negara

Catatan Kelam Eksplorasi Antariksa 2025: Deretan Misi Gagal di Berbagai Negara

SURABAYA ( LENTERA ) - Tahun 2025 tercatat sebagai salah satu periode paling sibuk dalam sejarah eksplorasi luar angkasa modern. Namun, di balik deretan pencapaian tersebut, terselip catatan lain yang tak kalah mencolok, yakni rangkaian kegagalan misi luar angkasa yang terjadi di berbagai negara.

Roket India Gagal Mengantarkan Satelit

Salah satu kegagalan terjadi pada 17 Mei 2025, ketika roket PSLV-XL milik India diluncurkan dari Satish Dhawan Space Centre. Roket tersebut membawa satelit radar pengamat Bumi EOS-09 untuk Organisasi Penelitian Luar Angkasa India (ISRO). Namun, sekitar enam menit setelah terbang, roket mengalami gangguan pada tahap ketiga. Akibat kendala tersebut, EOS-09 gagal mencapai orbit dan dinyatakan hilang.

Misi Firefly Aerospace Berujung Kerugian

Perusahaan asal Texas, Firefly Aerospace, juga menghadapi tahun yang berat. Pada 29 April, roket Alpha diluncurkan dari California dalam misi keenamnya, membawa muatan demonstrasi teknologi milik Lockheed Martin ke orbit rendah Bumi. Tahap atas roket sempat mencapai ketinggian sekitar 320 kilometer, tetapi gagal memperoleh kecepatan orbit akibat masalah teknis setelah pemisahan tahap. Muatan tersebut pun hilang.

Masalah Firefly tidak berhenti di situ. Pada 29 September, pendorong tahap pertama untuk Penerbangan 7 meledak di landasan saat menjalani uji coba. Perusahaan menyebut insiden tersebut disebabkan oleh sebuah “kesalahan proses” saat tahap integrasi. Firefly kini menargetkan peluncuran ulang Penerbangan 7 dengan pendorong berbeda pada awal 2026.

Zhuque-2 China Alami Kegagalan Kedua

Di China, roket Zhuque-2 milik perusahaan rintisan Landspace gagal dalam misi keenamnya pada 14 Agustus 2025. Roket dua tahap berbahan bakar metana cair dan oksigen cair itu diluncurkan dari Pusat Peluncuran Satelit Jiuquan. Landspace tidak mengungkap muatan yang dibawa, namun kegagalan ini menjadi yang kedua bagi Zhuque-2, yang teknologinya sering dibandingkan dengan mesin Raptor milik SpaceX.

Ceres-1 Meledak di Udara

Beberapa bulan kemudian, roket China lainnya, Ceres-1 buatan Galactic Energy, mengalami nasib serupa. Roket tersebut meluncur pada 9 November dari Jiuquan, membawa dua satelit pengamat Bumi komersial serta satu wahana antariksa milik universitas di China. Tiga tahap awal berjalan normal, tetapi tahap keempat mengalami anomali yang menggagalkan seluruh misi.

Selain itu, terdapat dugaan kegagalan lain pada kendaraan Kuaizhou 1A buatan ExPace yang diduga meledak di landasan peluncuran Jiuquan pada 1 Maret, meski insiden tersebut belum dikonfirmasi secara resmi.

Jepang Kehilangan Satelit Navigasi

Jepang juga mengalami kegagalan menjelang akhir tahun. Pada 21 Desember 2025, roket H3 mengalami masalah pada tahap kedua saat meluncurkan satelit navigasi Michibiki 5. Roket gagal menempatkan satelit pada orbit yang diinginkan, dan Badan Penjelajahan Antariksa Jepang (JAXA) akhirnya menyatakan satelit tersebut hilang.

Peluncuran Orbit Perdana dari Eropa Berakhir Tragis

Pada 30 Maret, perusahaan Jerman Isar Aerospace mencetak sejarah dengan meluncurkan roket Spectrum dari Pelabuhan Antariksa Andøya di Norwegia. Ini merupakan penerbangan orbital pertama yang pernah dilakukan dari daratan Eropa. Namun, hanya 18 detik setelah lepas landas, roket mengalami anomali, jatuh kembali ke Bumi, dan meledak. Meski gagal, Isar Aerospace tetap melanjutkan persiapan untuk peluncuran kedua dari lokasi yang sama.

Roket Buatan Australia Gagal Debut

Kegagalan debut juga dialami oleh Gilmour Space dari Australia. Pada 29 Juli, perusahaan tersebut meluncurkan roket Eris dari Pelabuhan Antariksa Orbit Bowen di Queensland. Roket buatan Australia pertama yang mencoba mencapai orbit itu justru meluncur miring dan jatuh ke tanah hanya 14 detik setelah lepas landas.

Korea Selatan Alami Nasib Serupa
Perusahaan rintisan Korea Selatan, Innospace, meluncurkan roket orbit swasta pertama negaranya, Hanbit-Nano, pada 22 Desember. Namun, sekitar satu menit setelah terbang, roket mengalami anomali dan jatuh kembali ke Bumi. Peristiwa ini menegaskan bahwa debut roket baru memang kerap diwarnai kegagalan.

Kegagalan Pendaratan Pendorong Roket

Sepanjang 2025, tercatat empat kegagalan upaya pendaratan pendorong roket, masing-masing dialami oleh New Glenn (Blue Origin), Falcon 9 (SpaceX), Zhuque-3 (Landspace), dan Long March 12A milik China. Meski keempat roket berhasil mencapai orbit, pendaratan pendorong sebagai target sekunder tidak tercapai. Namun, mengingat sebagian besar merupakan penerbangan perdana, kegagalan ini tetap dipandang sebagai bagian dari proses pengembangan.

Wahana Pendarat Swasta AS Terjungkal di Bulan

Pada 6 Maret, wahana pendarat robotik Athena buatan Intuitive Machines berhasil mendarat di Bulan membawa muatan sains NASA. Namun, wahana tersebut terjungkal sehingga beberapa instrumen tidak dapat berfungsi. Athena juga tidak memperoleh cukup energi matahari untuk mengisi baterai, dan dinyatakan “mati” sehari kemudian. Ini menjadi kegagalan kedua Intuitive Machines dalam rentang setahun, setelah wahana Odysseus juga terjungkal pada Februari 2024.

Wahana Jepang Menabrak Permukaan Bulan

Perusahaan Jepang ispace kembali mengalami kegagalan pada 5 Juni, ketika wahana Resilience menghantam permukaan Bulan di wilayah Mare Frigoris. Meski gagal mendarat dengan selamat, misi ini tetap mencatat keberhasilan mencapai orbit bulan. ispace berencana mencoba kembali pada 2027.

Uji Coba Starship Penuh Drama

Program Starship milik SpaceX juga diwarnai pasang surut. Sepanjang 2025, Starship melakukan lima uji coba suborbital. Tiga uji awal mengalami kegagalan, termasuk ledakan tahap atas yang menghujani Kepulauan Turks dan Caicos dengan puing-puing. Bahkan, prototipe Ship untuk Penerbangan 10 sempat meledak di stand uji pada Juni. Namun, SpaceX bangkit dengan keberhasilan besar pada Penerbangan 10 dan 11. Kini perusahaan bersiap menguji Starship Versi 3 yang dirancang untuk misi ke Mars.(ist,kcm/dya)

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.