12 January 2026

Get In Touch

Pemda DIY Perpanjang Status Siaga Darurat Bencana Hidrometeorologi Hingga Maret 2026

Awan mendung di kawasan Tugu Yogyakarta. (foto:ist/dok.Ant)
Awan mendung di kawasan Tugu Yogyakarta. (foto:ist/dok.Ant)

YOGYAKARTA (Lentera) - Pemerintah Daerah (Pemda) DIY kembali memperpanjang status Siaga darurat bencana hidrometeorologi di wilayahnya, status langsung diperpanjang hingga tiga bulan atau sampai akhir Maret 2026.

Perpanjangan status ini tertuang dalam Keputusan Gubernur (Kepgub) DIY nomor 432 tahun 2025 tentang Penetapan Perpanjangan Kedua Status Siaga Darurat Bencana Hidrometeorologi (Banjir, Tanah Longsor, dan Cuaca Ekstrem) di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Dalam Kepgub DIY tersebut memutuskan, status Siaga Darurat Bencana Hidrometeorologi di DIY diperpanjang mulai 20 Desember 2025 hingga 19 Maret 2026.

"Kita lakukan (perpanjangan) sampai nanti awal Maret. Ini sudah perpanjangan juga terkait dengan SK Darurat ini. Itu kan sebagai langkah antisipatif ya," jelas Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY, Agustinus Ruruh Haryata melansir detikJogja, Minggu (11/1/2026).

"Jadi kalau menurut prediksi BMKG memang di bulan Januari-Februari ini kan curah hujan puncaknya di tahun ini kan. Nah, di dasarian dua ini curah hujannya memang menengah-tinggi ya. Kategorinya menengah sampai ke tinggi. Nanti di dasarian tiga cuman sampai menengah," sambungnya.

Perpanjangan status siaga darurat ini menjadi yang kedua, perpanjangan yang pertama diumumkan dengan terbitnya Kepgub DIY Nomor 388 Tahun 2025 yang memperpanjang status mulai 20 November hingga 19 Desember 2025.

Adapun status ini ditetapkan pertama kali pada 20 Oktober 2025, dengan terbitnya surat keputusan (SK) Gubernur DIY No 347/2025 tentang penetapan status siaga darurat bencana hidrometeorologi DIY. Status ini berlaku pada 20 Oktober hingga 19 November 2025 dan bisa diperpanjang.

Ruruh mengatakan, selama bulan Januari 2026 ini curah hujan yang cukup tinggi agak menimbulkan sedikit permasalahan yang paling terasa di Gunungkidul. Selain adanya angin puting beliung, juga muncul adanya amblesan akibat air bawah tanah.

"Ada amblesan di Girikarto, Panggang kemarin kami juga begitu mendapatkan informasi, kemudian kami bersama-sama dengan BPPTKG Jogja, kemudian melakukan asesmen bersama TRC dan Pusdalops untuk mengidentifikasi permasalahan," paparnya.

"Ya kalau di situ kan memang sebenarnya sudah sering terjadi ya apa semacam amblesan gitu, kan kita tahu bersama kalau Gunungkidul kan tipikalnya kan di bawah tanah itu ada aliran sungai bawah tanah dan rongga-rongga gua gitu lho," sambungnya.

Terkait itu, lanjut Ruruh, diperlukan teknologi yang tinggi untuk mendeteksi kedalaman dan lebarnya. Pihaknya pun menggandeng BPPTKG untuk menggunakan teknologi uji geolistrik nanti. Teknologi ini mampu memastikan dimensi rongga.

"Ini sedang kita persiapkan nanti kita melakukan uji geolistrik karena alat-alatnya kan juga harus dipersiapkan," terang Ruruh.

"Sehingga harapannya nanti kalau dari hasil uji geolistrik itu memang sudah kita dapatkan, nanti kalau kemudian membahayakan bagi masyarakat atau penduduk yang bermukim di situ ya kita akan lakukan antisipasi bersama-sama dengan BPBD Kabupaten Gunungkidul," pungkasnya.

 

 

Editor: Arief Sukaputra

 

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.