16 January 2026

Get In Touch

Beroperasinya 27 Rumah Kompos Tekan Timbunan Sampah di Surabaya, Pemkot Hemat Rp6,73 Miliar per Tahun

Rumah Kompos di Surabaya.
Rumah Kompos di Surabaya.

SURABAYA (Lentera) -Melalui pengoperasian 27 rumah kompos, Pemerintah Kota Surabaya berhasil menekan timbulan sampah sekaligus menghemat biaya pengangkutan hingga Rp6,73 miliar per tahun.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Surabaya, Dedik Irianto, mengungkapkan total timbulan sampah di Kota Pahlawan mencapai sekitar 1.800 ton per hari. Besarnya volume tersebut mendorong Pemkot Surabaya untuk tidak hanya bergantung pada pengelolaan di hilir, tetapi juga memperkuat penanganan sejak dari sumbernya.

“Jumlah timbulan sampah di Kota Surabaya setiap harinya sekitar 1.800 ton,” ungkap Dedik, Rabu (14/1/2026).

Sebagai bagian dari strategi pengelolaan dari hulu, Pemkot Surabaya mengembangkan berbagai program, di antaranya rumah kompos dan bank sampah. Sementara itu, residu sampah yang tidak dapat dikelola di tingkat hulu tetap diarahkan ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Benowo.

Khusus untuk sampah organik, DLH Surabaya saat ini mengoperasikan 27 rumah kompos yang tersebar di berbagai wilayah. Seluruh rumah kompos tersebut memiliki kapasitas pengolahan total mencapai 95,17 ton per hari.

“Untuk sampah organik di Kota Surabaya, kita memiliki kurang lebih 27 rumah kompos,” terang Dedik.

Ia menjelaskan, bahan baku rumah kompos sebagian besar berasal dari limbah hasil perantingan pohon serta sampah sayuran dari pasar tradisional. Limbah tersebut kemudian diolah menjadi kompos guna mengurangi jumlah sampah yang harus diangkut ke TPA.

“Ini yang kemudian kita kelola menjadi kompos, sehingga dapat mengurangi volume sampah,” jelasnya.

Menurut Dedik, pengolahan sampah organik memberikan manfaat ganda bagi Pemkot Surabaya. Selain menekan beban TPA Benowo, hasil kompos juga dimanfaatkan untuk kebutuhan pemeliharaan ruang terbuka hijau (RTH). “Pengolahan ini juga mengurangi belanja pupuk Dinas Lingkungan Hidup Surabaya,” ucapnya.

Dengan memanfaatkan kompos hasil produksi sendiri, DLH Surabaya tidak perlu lagi bergantung pada pembelian pupuk dari pihak luar. Hal ini berdampak langsung pada efisiensi anggaran daerah.

“Selain mengurangi sampah yang masuk ke TPA, kita juga bisa mengurangi belanja DLH untuk pembelian kompos,” tambahnya.

Berdasarkan data DLH Surabaya, keberadaan 27 rumah kompos mampu menghemat biaya pengangkutan sampah hingga Rp6,73 miliar per tahun. Selain itu, pengolahan sampah organik tersebut juga menekan biaya pengolahan di TPA Benowo sebesar Rp7,36 miliar per tahun.

Setiap harinya, volume bahan yang masuk ke rumah kompos tercatat lebih dari 100 ton. Rinciannya, limbah hasil perantingan pohon, pohon tumbang, dan sejenisnya mencapai 90,41 ton per hari, sedangkan sampah pasar sekitar 10,14 ton per hari.

DLH Surabaya juga menangani sampah anorganik melalui Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Saat ini, telah terbangun 12 TPS 3R dengan kapasitas bervariasi antara 10 hingga 20 ton per hari.

“Dari 12 TPS ini kapasitasnya bermacam-macam. Ada yang 10 ton, ada juga yang 20 ton,” jelas Dedik.

TPS 3R dinilai efektif karena mampu mengurangi hingga 50 persen volume sampah. Artinya, dari kapasitas 10 ton sampah, hanya sekitar 5 ton residu yang akhirnya dibuang ke TPA Benowo. 

Jenis sampah yang dikelola di TPS 3R didominasi oleh sampah anorganik seperti botol, plastik, logam, kaca, kayu, kertas, dan karton. Selain itu, TPS 3R juga menangani sampah spesifik seperti baterai bekas, lampu, dan kaleng aerosol. “Ini termasuk sampah spesifik yang kita tangani di TPS 3R,” tutupnya.

Reporter: Amanah|Editor: Arifin BH

 

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.