TRENGGALEK (Lentera) – Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Trenggalek menyampaikan bahwa sepanjang tahun 2025 pelaksanaan program pencegahan, rehabilitasi, dan pemberantasan narkoba berjalan dengan baik. Meski tidak ditemukan kasus menonjol, tren penyalahgunaan narkoba di Trenggalek tercatat mengalami peningkatan, khususnya di kalangan usia produktif.
Kepala BNNK Trenggalek, AKBP Wiji Rahayu, mengatakan mayoritas klien yang ditangani berada pada rentang usia 20 hingga 35 tahun.
“Untuk kasus yang ada di Trenggalek tidak ada yang menonjol, namun klien yang kami tangani kebanyakan dari usia produktif, sekitar 20 sampai 35 tahun,” ujar AKBP Wiji Rahayu, Senin (19/01/2026).
Menurutnya, sepanjang 2025 BNNK Trenggalek telah memaksimalkan upaya pencegahan melalui kegiatan sosialisasi dan penyuluhan yang menyasar pelajar hingga masyarakat desa.
“Kami sudah berupaya semaksimal mungkin melakukan sosialisasi, mulai dari sekolah-sekolah sampai ke desa-desa, baik program dari kami sendiri maupun atas permintaan masyarakat,” jelasnya.
Di bidang rehabilitasi, BNNK Trenggalek menerapkan tahapan asesmen sebelum menentukan jenis penanganan bagi penyalahguna narkoba.
“Kalau hasil asesmen masuk kategori ringan sampai sedang, kami rekomendasikan rawat jalan. Tapi jika sudah berat, kami rawat inap,” katanya.
Sementara dalam upaya pemberantasan, BNNK Trenggalek terus bersinergi dengan Polres Trenggalek, khususnya dalam penanganan tersangka yang ditangkap aparat kepolisian.
“Manakala ada penangkapan dari Polres Trenggalek, kami tindak lanjuti untuk asesmen,” tambahnya.
“Satu karena kegiatan kami ditingkatkan sehingga kasus lebih terdeteksi. Kedua, kemungkinan karena kemudahan akses keluar masuk Trenggalek. Terus terang, pengedar banyak berasal dari kabupaten tetangga,” ungkapnya.
Ia juga menjelaskan alasan usia produktif mendominasi kasus penyalahgunaan narkoba. Banyak pekerja muda tergiur iming-iming narkoba sebagai penambah stamina kerja.
“Mereka sering diiming-imingi sebagai doping supaya kuat bekerja. Itu yang banyak menyasar pekerja,” katanya.
Para pengguna berasal dari beragam latar belakang profesi, mulai dari nelayan, pekerja kapal, petani, tukang tambal ban, hingga tukang las.
Berdasarkan data penanganan, wilayah yang dinilai paling rentan adalah Kecamatan Watulimo. Menurutnya, kawasan tersebut semakin terbuka dengan adanya Jalur Lintas Selatan (JLS) dan berkembangnya destinasi wisata.
“Watulimo itu lebih terbuka, ada JLS, tempat wisata, banyak orang berkumpul dari berbagai daerah. Itu yang membuatnya rentan,” jelasnya.
Sebagai langkah pencegahan, BNNK Trenggalek juga melakukan deteksi dini, salah satunya melalui tes urine bagi pekerja, termasuk nelayan.
“Kami sudah koordinasi dengan salah satu juragan kapal dan melaksanakan tes urine. Alhamdulillah hasilnya negatif semua. Tapi selama ini memang banyak yang berkecimpung di kapal,” pungkasnya.
Reporter: Herlambang|Editor:Arifin BH




