22 January 2026

Get In Touch

Mahasiswa ITN Malang Ciptakan Alat Pencetak Kerupuk hingga Penyortir Beras Otomatis

Mahasiswa ITN Malang ciptakan alat inovasi pendukung UMKM. (dok. Humas ITN Malang)
Mahasiswa ITN Malang ciptakan alat inovasi pendukung UMKM. (dok. Humas ITN Malang)

MALANG (Lentera) - Mahasiswa Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang berhasil menciptakan sejumlah alat inovatif, mulai dari alat pencetak kerupuk hingga penyortir beras otomatis. Alat tersebut dirancang untuk membantu meningkatkan efisiensi dan produktivitas pelaku usaha kecil dan menengah (UKM).

Sebanyak 11 kelompok mahasiswa memamerkan karya inovatif di bawah bimbingan dosen pengampu Dr. Prima Vitasari, SIP., MPd., MT. dan Sanny Andjar Sari, ST., MT.

"Mahasiswa wajib mencari mitra UKM yang memiliki permasalahan nyata, kemudian mencarikan solusi melalui pendekatan keilmuan teknik industri. Mulai dari efisiensi waktu produksi, peningkatan kapasitas, hingga aspek ergonomi," ujar Prima, dikutip pada Selasa (20/1/2026).

Beragam karya tersebut dipamerkan dalam kegiatan “Exhibition Capstone Design: The Future of Manufacturing” yang digelar di Lantai 2 Gedung Mesin Kampus 2 ITN Malang, Kamis (15/1/2026) lalu.

Salah satu inovasi yang mencuri perhatian adalah alat pencampur bumbu keripik tempe karya Jason Novellino, Mahda Arnellia, dan Muhammad Rizal Ferdiansyah. Inovasi ini lahir dari hasil riset di UMKM Keripik Tempe Rudi yang berlokasi di Kampung Sanan, Kota Malang.

Jason menjelaskan, sebelumnya proses pencampuran bumbu dilakukan secara manual menggunakan tampah dengan kapasitas terbatas. "Dalam satu kali aduk hanya bisa mencampur sekitar 16 sampai 20 bungkus. Dengan alat yang kami rancang, kapasitas meningkat menjadi 34 hingga 40 bungkus dalam satu proses," ungkapnya.

Inovasi lain juga ditujukan untuk Koperasi Amarta Padi Blitar. Dua kelompok mahasiswa berkolaborasi menciptakan alat penyortir beras otomatis serta alat pencetak kerupuk puli ergonomis yang saling terintegrasi untuk meningkatkan nilai ekonomis produk koperasi.

Perwakilan mahasiswa, Defa Ari Maulana, menjelaskan beras utuh akan dipasarkan, sementara beras pecah atau menir dimanfaatkan sebagai bahan baku kerupuk puli.

"Kami merancang alat pencetak multi-kapasitas yang mampu mencetak 20 kerupuk puli sekaligus. Sebelumnya pekerja hanya bisa mencetak tiga buah dalam sekali tekan dan harus duduk lama," paparnya. 

Selain meningkatkan kapasitas produksi, aspek kesehatan dan keselamatan kerja juga menjadi perhatian mahasiswa. Kelompok Didan Suryadana Suwito, Faris Ardiansyah, dan Rivan Andika menciptakan alat ayakan beras otomatis untuk menggantikan proses sortir manual yang berisiko menyebabkan keluhan sakit punggung.

Alat ini mampu memisahkan beras utuh, menir, dan kotoran secara otomatis melalui sistem ayakan dan magnet, sehingga proses kerja menjadi lebih efisien dan ergonomis. (*)


Reporter: Santi Wahyu
Editor : Lutfiyu Handi

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.