04 February 2026

Get In Touch

Kepingan Puzzle Kematian Lula Lahfah: Dari Erangan Kesakitan hingga Kehadiran Reza Arap

Selebgram Lula Lahfah berpulang. Psikiater menilai dorongan menyebarkan foto jenazah Lula Lahfah lebih sering dipicu emosi, rasa ingin tahu, dan kurangnya literasi empati digital (Instagram @lulalahfah)
Selebgram Lula Lahfah berpulang. Psikiater menilai dorongan menyebarkan foto jenazah Lula Lahfah lebih sering dipicu emosi, rasa ingin tahu, dan kurangnya literasi empati digital (Instagram @lulalahfah)

JAKARTA  (Lentera) -Kematian influencer Lula Lahfah masih meninggalkan sejumlah pertanyaan bagi publik. Meski pihak keluarga menolak dilakukan otopsi, polisi tetap berupaya mengungkap penyebab kematian Lula melalui pemeriksaan saksi-saksi.

Polisi menjadwalkan pemeriksaan terhadap tujuh orang saksi pada Senin (26/1/2026), tiga hari setelah Lula ditemukan meninggal dunia di kamar apartemennya wilayah Jakarta Selatan.

Mereka yang dipanggil antara lain asisten pribadi, asisten rumah tangga (ART), sopir pribadi, dokter pribadi, pihak rumah sakit tempat Lula pernah dirawat, serta kekasihnya, Reza Arap.

ART dengar erangan sakit

Belasan jam sebelum ditemukan meninggal, asisten rumah tangga (ART) Lula, Asiah, sempat mendengar suara erangan kesakitan dari dalam kamar sang majikan pada Jumat (23/1/2026) pukul 02.00 WIB dini hari.

“Dia pulang malam, sekitar jam 10.00 malam masuk kamar. Terus jam 02.00 WIB dini hari, ART mendengar dia kayak kesakitan,” jelas Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto saat dikonfirmasi, Senin (26/1/2026).

Saat itu, Asiah tidak berani bertindak lebih jauh dan menunggu hingga pagi hari untuk kembali mendatangi kamar Lula dan mengetuk pintu kamarnya. Namun, tidak ada respons dari dalam kamar.

Asiah kemudian meminta bantuan petugas keamanan apartemen untuk membuka pintu secara paksa.

Akan tetapi, petugas keamanan tidak bisa langsung mendobrak pintu dan meminta izin dari pihak keluarga Lula.

Pada sore harinya, Asiah kembali mendatangi petugas keamanan setelah mengantongi izin dari keluarga.

“Sore akhirnya lapor ke sekuriti lagi minta ada keluarga atau orang dekat yang bisa menjamin supaya teknisi atau pihak apartemen mendobrak pintu kamar karena kamar terkunci dari dalam,” tutur Budi.

Pukul 18.44 WIB, pintu kamar akhirnya dibuka. Lula ditemukan tergeletak di lantai dengan mulut terbuka dan bibir membiru. Denyut nadinya sudah tidak teraba.

Asiah kemudian menghubungi asisten pribadi Lula, Cindy, untuk mengabarkan kondisi tersebut.

“Cin… Cin… Kak Lula sudah enggak napas,” kata Asiah dalam telepon.

Dokter pribadi Lula bernama Rizky lalu dipanggil untuk memeriksa kondisi korban. Selanjutnya, jenazah Lula dibawa ke Rumah Sakit Fatmawati, Jakarta Selatan, sekitar pukul 21.20 WIB.

Berdasarkan pemeriksaan awal, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh Lula.

“Tidak ada tanda-tanda penganiayaan, namun ditemukan obat-obatan sama surat rawat jalan dari RSPI,” kata Kasi Humas Polres Metro Jakarta Selatan Kompol Murodih, mengutip Kompas.

Pada Sabtu (24/1/2026) pagi, jenazah Lula disemayamkan di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) lalu dimakamkan di TPU Rawa Terate, Cakung, Jakarta Timur.

7 saksi diperiksa

Untuk kepentingan penyelidikan, polisi memeriksa tujuh orang saksi yang berkaitan dengan kematian Lula di Mapolres Jakarta Selatan pada Senin kemarin. Lima di antaranya telah hadir dan memberikan keterangan kepada penyelidik.

Sementara itu, Reza Arap yang dijadwalkan menjalani pemeriksaan sejak pukul 10.00 WIB sempat meminta penundaan hingga sore hari. Namun, hingga Selasa (27/1/2026) pukul 00.00 WIB dini hari, Reza belum juga hadir di Mapolres Jakarta Selatan. 

Keterangan Reza dinilai penting karena ia disebut berada di lokasi kejadian saat Lula ditemukan meninggal dunia. Polisi ingin mengonfirmasi waktu kedatangan Reza ke apartemen Lula.

Pasalnya, hingga kini penyelidik belum mengetahui secara pasti kapan Reza tiba di apartemen dan masih mengandalkan keterangan dari saksi lain.

“Kalau di TKP saat kejadian atau pada saat sebelumnya kita masih dalami kan waktunya. Kami juga polisi enggak lihat (dia di sana), hanya saksi-saksi ini (yang bilang), kamu masih dalami semuanya,” kata Kasat Reskrim Polres Jakarta Selatan AKBP Mohamad Iskandarsyah.

Selain itu, polisi juga mengklarifikasi temuan obat-obatan dan surat dokter dari RSPI yang ditemukan di kamar Lula.

Budi menyebutkan, obat dan surat tersebut diduga berkaitan dengan riwayat operasi besar yang pernah dijalani Lula akibat batu ginjal dan asam lambung akut.

“Yang bersangkutan itu habis operasi batu ginjal sama asam lambung akut ya, tanggalnya lagi dicek ke RSPI,” kata Budi saat dikonfirmasi, Senin.

Polisi juga masih melakukan pemeriksaan terhadap barang bukti lain yang ditemukan di kamar Lula, termasuk obat-obatan. Namun, hingga kini belum dapat disampaikan secara rinci.

Selain itu, penyelidik menunggu hasil pemeriksaan lanjutan terkait penyebab kematian yang dilakukan oleh dokter di RS Fatmawati yang menerima jenazah Lula pada malam kejadian (*)

Editor: Arifin BH

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.