PALANGKA RAYA (Lentera) - Produk kerajinan khas Dayak, yang merupakan kearifan lokal di Kota Palangka Raya, dinilai masih sangat "virgin" atau belum tersentuh secara signifikan untuk bisa menembus pasar ekspor internasional.
Sebagaimana disampaikan Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi Usaha Kecil Menengah dan Perindustrian (DPKUKMP) Kota Palangka Raya, Samsul Rizal, salah satu contoh yaitu kerajinan tangan getah nyatu khas Palangka Raya, Kalimantan Tengah (Kalteng), dimana sebenarnya memiliki potensi besar untuk menembus pasar ekspor internasional, terutama ke Jepang dan beberapa negara Eropa.
"Kerajinan getah nyatu yang dihasilkan pelaku usaha di Palangka Raya, termasuk dari kalangan yang dibina oleh Indonesia Berdaya Saing (IBS), telah menunjukkan spesialisasi kriya yang kuat," papar Rizal, Sabtu (31/1/2026).
Ia melanjutkan, produk-produk tersebut sudah banyak diekspor ke luar negeri, namun potensi dari Palangka Raya dinilai masih belum tersentuh secara signifikan.
Rizal mengatakan, produk IKM di Palangka Raya memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan dan bisa menembus pasar yang lebih luas, termasuk internasional.
Namun dalam pengembangannya bergantung pada kesiapan pelaku usaha untuk melalui proses peningkatan kualitas secara berkelanjutan. "Karena setiap negara tujuan ekspor memiliki regulasi dan selera pasar yang berbeda, sehingga pelaku IKM tidak boleh cepat berpuas diri meskipun sudah dinilai baik di pasar lokal," tuturnya.
Rizal menekankan, aspek kemasan, pemilihan warna, hingga detail tampilan produk sangat mempengaruhi daya tarik dan penerimaan di pasar internasional. "Dalam hal ini, kemauan pelaku usaha untuk tumbuh, belajar, dan konsistensi mempertahankan kearifan lokal khas Kalteng menjadi faktor penting," tegasnya.
Sementara itu Wakil Wali Kota Palangka Raya, Achmad Zaini, mengutarakan, saat ini peta ekspor produk kriya dari Palangka Raya masih "putih" atau belum tercatat pengiriman ekspor yang signifikan, berbeda dengan daerah lain di Kalimantan seperti Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Barat, yang sudah memiliki akses ekspor lebih baik.
Namun ia berpendapat, justru kondisi ini menjadi peluang karena produk lokal masih sangat original dan belum "tertutupi" oleh komoditas besar seperti tambang dan sawit. "Semoga ke depan Palangka Raya tidak lagi berstatus "putih" atau "abu-abu" di peta ekspor nasional, melainkan menjadi salah satu daerah unggulan kriya berbasis budaya Dayak yang kompetitif di kancah global," ungkapnya.
Zaini menambahkan, 99,9 persen pelaku usaha kerajinan tangan lokal adalah UKM. Karena itu dukungan pemerintah daerah akan terus berlanjut agar antusiasme para pelaku UKM bisa diterjemahkan menjadi ekspor yang berkelanjutan.
"Kita berharap nantinya Palangka Raya tidak lagi berstatus "putih" atau "abu-abu" di peta ekspor nasional, tetapi menjadi salah satu daerah unggulan kriya berbasis budaya Dayak yang kompetitif di kancah global," pungkasnya. (*)
Reporter : Novita
Editor : Lutfiyu Handi




