09 February 2026

Get In Touch

Si Kecil Melayani Si Kecil

Zainal Arifin Emka
Zainal Arifin Emka

OPINI (Lentera) -UMKM mikro menyimpan pertanyaan menggelisahkan: apakah ini tanda kebangkitan, atau sekadar cara paling sunyi untuk bertahan hidup di tengah tekanan ekonomi yang kian menyesak?!? Mereka tidak lahir dari keberanian mengambil peluang, melainkan dari sempitnya pilihan.

Indonesia hari ini tampak sibuk berwirausaha. Lapak makanan tumbuh di gang-gang sempit, trotoar, dan halaman rumah. Bahkan di pintu belakang rumah. Dekat dapur. Ditilik dari mata merpati,  ini terlihat seperti denyut ekonomi rakyat.

Namun bila disambangi lebih dekat, menjamurnya UMKM mikro ini menyimpan pertanyaan menggelisahkan: apakah ini tanda kebangkitan, atau sekadar cara paling sunyi untuk bertahan hidup di tengah tekanan ekonomi yang kian menyesak?!?

Perenungannya begini. Ketika negara berbicara tentang pertumbuhan, rakyat berbicara tentang bertahan. Di antara dua bahasa itu, lahirlah ribuan UMKM makanan kecil: kue rumahan, kopi gerobak, es serut. 

Tak bisa disebut buah perencanaan. Tapi lebih tepat sekadar reaksi darurat. Mereka tidak lahir dari keberanian mengambil peluang, melainkan dari sempitnya pilihan.

Kelas Keci

Saya tidak sedang ngrasani dan menggunjing pelaku UMKM. UMKM mikro yang masuk dalam kategori usaha kecil yang berdiri sendiri, bukan anak perusahaan. Istilah "UMKM Naik Kelas" sering digunakan untuk menggambarkan peningkatan skala usaha dari mikro ke kecil, atau kecil ke menengah.

Kita ngomong masalah struktur dan kebijakan. Secara struktur, UMKM mikro memang berputar di kelas yang sama. Mereka UMKM “kelas kecil” yang berjualan kue rumahan, gorengan, kopi gerobak, atau es. Pada umumnya beroperasi di lingkungan padat dan berdaya beli rendah. Dagangannya produk murah, cepat habis, tanpa diferensiasi, mengandalkan pembeli harian yang juga sensitif harga.

Akibatnya terbentuk sirkulasi ekonomi horizontal: orang kecil melayani orang kecil, uang berputar pendek, cepat habis, dan tidak naik kelas.
Ini bukan soal moral, tapi soal struktur pasar.

Kelas menengah – atas tidak disentuh, bukan karena selera semata, tetapi karena akses. Sebab untuk menjangkau pembeli yang lebih mapan, dibutuhkan standar mutu dan konsistensi, kemasan, branding, dan kepercayaan, kanal distribusi yang lebih luas.Semua ini butuh modal, pendampingan, dan waktu. Itu tiga hal yang tidak dimiliki UMKM mikro dan tidak disediakan negara secara serius.

Yang terjadi kemudian adalah “kemiskinan yang saling menghidupi kemiskinan”.
Mungkin terdengar sinis, tapi ini faktual. Penjual bertahan hidup, pembeli mengisi kebutuhan murah, tidak ada akumulasi nilai tambah. Ekonomi memang bergerak, tapi tidak mendaki.

Hanya Peredam

Sampai di sini saya ingin menyodorkan satu catatan penting agar adil. Sirkulasi ini bukanlah kesalahan pelaku UMKM. Mereka bermain di lapangan sempit yang memang disediakan atau disisakan untuk mereka.

Yang bermasalah adalah ketika negara puas dengan statistik jumlah UMKM, tanpa membuka tangga agar sebagian bisa naik kelas dan menembus pasar yang lebih luas.
Tanpa “tangga sosial-ekonomi” itu, UMKM mikro hanya menjadi peredam ledakan sosial, bukan mesin kesejahteraan.

Maka, ya . . . dalam banyak kasus, orang miskin memang melayani orang miskin.

Lebih tidak wajar ketika kondisi itu dianggap normal, bahkan dipuji, padahal ia menandai kegagalan kebijakan yang lebih dalam. Jadi, ledakan UMKM makanan belakangan ini memang lebih mirip mekanisme bertahan hidup ketimbang tanda ekonomi rakyat yang sehat.

Berhenti di Slogan

Ada beberapa lapis persoalan yang perlu dibedakan dengan jernih.

Pertama, UMKM makanan sebagai “ekonomi darurat”. Banyak orang masuk ke usaha kue, minuman, kopi, atau jajanan karena ambang masuknya paling rendah: tidak butuh teknologi, tidak perlu izin rumit, modal bisa dicicil dari tabungan tipis. 

Ini ciri klasik ekonomi yang sedang tertekan. Ketika sektor formal menyempit, orang tidak “berwirausaha” dalam makna ideal, melainkan menghindari jatuh lebih dalam.

Kedua, absennya intervensi negara memang nyata. Pemerintah gemar memuji UMKM sebagai “tulang punggung ekonomi”. Tetapi dukungan nyata sering berhenti di slogan. UMKM mikro makanan kerap tidak tersentuh pembiayaan. 

Alasan klasiknya:  dianggap tidak bankable, skala terlalu kecil untuk program besar, tidak cocok dengan narasi hilirisasi dan digitalisasi yang sedang digemari. Akibatnya, negara hadir di baliho, absen di lapak.

Ketiga, masalah sesungguhnya bukan jumlah, melainkan kualitas dan daya tahan. UMKM makanan menjamur. Tetapi produknya homogen, margin tipis, mudah mati saat harga bahan naik atau tren bergeser. Ini bukan ekosistem yang sehat, melainkan kompetisi sesama orang kecil yang berebut dompet rakyat kecil juga. 

Negara seharusnya masuk di titik ini: peningkatan kapasitas, akses bahan baku, perlindungan dari permainan platform, dan pembinaan berjenjang. Tanpa itu, UMKM hanya dipelihara agar tidak meledak menjadi pengangguran terbuka.

Keempat, bahaya romantisasi UMKM. Ketika UMKM mikro terus dipuja tanpa kritik, ada risiko besar: kegagalan negara ditutup oleh heroisme rakyat. Rakyat dipaksa kreatif, adaptif, dan mandiri, sementara kebijakan struktural dibiarkan mandek.

Bukan Solusi

Sampai di sini saya berharap Anda sepakat: banyak UMKM makanan hari ini adalah gejala, bukan solusi. Ia tanda bahwa tekanan ekonomi nyata dirasakan di bawah, dan negara belum sepenuhnya turun tangan secara serius dan terarah.

Jadi, yang perlu dikritik bukan orang yang berjualan jajanan pasar, es atau kopi. Mereka ini pejuang dan sedang terus berjuang. Sistem yang membiarkan mereka berjuang sendirian, itulah yang musti ditelisik.

UMKM mikro tidak salah. Mereka bekerja, berusaha, dan berputar di ruang sempit yang tersedia. Tepatnya, ruang sempit yang tersisa. Yang menyedihkan adalah ketika negara merasa cukup hanya dengan memuji ketangguhan rakyat, tanpa menyediakan tangga untuk naik kelas.

Selama orang miskin hanya melayani orang miskin, ekonomi mungkin bergerak, tetapi keadilan tetap diam di tempat.

Menjual kue, kopi, atau es bukan persoalan. Persoalannya adalah ketika itu menjadi satu-satunya jalan yang tersedia. Jika UMKM terus dirayakan tanpa keberanian mengakui akar persoalannya, maka yang kita rawat bukan kesejahteraan, melainkan kepasrahan. 

Dan dari kepasrahan itulah, masa depan yang rapuh perlahan dibangun (*)

Zainal Arifin Emka, Wartawan Tua, Pengajar Stikosa-AWS|Editor: Arifin BH

Share:

Punya insight tentang peristiwa terkini?

Jadikan tulisan Anda inspirasi untuk yang lain!
Klik disini untuk memulai!

Mulai Menulis
Lentera Today.
Lentera Today.