15 February 2026

Get In Touch

Bos BGN Ngaku Deg-degan Jalankan MBG: Kepemimpinan Prabowo Jadi Taruhan

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana (kiri) bersama Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (Kanan) usai membahas anggaran Makan Bergizi Gratis (MBG) di kantor BGN, Jakarta, Jumat (26/9/2025) -Bisnis
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana (kiri) bersama Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (Kanan) usai membahas anggaran Makan Bergizi Gratis (MBG) di kantor BGN, Jakarta, Jumat (26/9/2025) -Bisnis

JAKARTA (Lentera) -Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana mengakui sempat merasa deg-degan saat dipercaya Presiden Prabowo Subianto menjalankan program makan bergizi gratis (MBG).

Dadan menuturkan program tersebut menjadi salah satu pertaruhan langsung kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Hal itu disampaikan Dadan dalam Indonesia Economic Outlook 2026, Jumat (13/2/2026).

“Saya sebagai Kepala Badan Gizi mendapat tugas yang luar biasa, karena Pak Presiden pada sidang kabinet yang pertama saja sudah menyampaikan, mempertaruhkan kepemimpinannya untuk program ini [MBG] agar berjalan, dan saya agak deg-degan karena kalau program ini [MBG] tidak berjalan maka kepemimpinan beliaulah yang dipertaruhkan,” kata Dadan.

Dadan menyatakan MBG bukan sekadar program sosial, melainkan langkah strategis jangka panjang yang menyasar pembangunan kualitas sumber daya manusia.

Menurutnya, Kepala Negara RI telah berada pada fase kepemimpinan sebagai brilliant commander, yakni pemimpin yang memikirkan pengembangan manusia sebagai fondasi utama pertumbuhan ekonomi.

Terlebih, menurut Dadan, tantangan demografi Indonesia masih bertumbuh cepat. Jumlah penduduk Indonesia bertambah sekitar enam orang setiap menit atau setara tiga juta jiwa per tahun, dan diproyeksikan mencapai 324 juta jiwa pada 2045.

Kendati demikian, BGN menilai persoalan utama bukan pada jumlah penduduk, melainkan pada kualitas sumber pertumbuhannya.

“Yang kita tahu bahwa penduduk Indonesia mayoritas tumbuh atau lahir dari orangtua yang pendidikannya 9 tahun,” ujarnya.

Menurut Dadan, kondisi tersebut berdampak pada akses gizi anak, di mana sekitar 60% anak Indonesia belum memiliki akses terhadap menu gizi seimbang dan hampir tidak pernah mengonsumsi susu.

“Tidak heran kalau baru pertama kali minum susu ketika ada program ini,” sambungnya, dikutip Bisnis.

Setelah berjalan satu tahun, Dadan menyebut program MBG mulai menunjukkan hasil dan mendapatkan pengakuan dari kalangan akademisi maupun internasional.

Dia bahkan mengklaim ekonom dari Institut Pertanian Bogor (IPB) yang sebelumnya skeptis kini melihat MBG sebagai pendekatan ekonomi baru dalam pembangunan nasional (*)

Editor: Arifin BH

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.