TRENGGALEK (Lentera) - Tradisi Megengan Masjid Ar-Ridlo di Desa Kedunglurah, Kecamatan Pogalan, Kabupaten Trenggalek, digelar meriah dengan berbagai lomba religi dan permainan tradisional yang melibatkan puluhan anak, Minggu (15/2/2026). Selain menjadi rangkaian Megengan Kubro dan haflah menjelang Ramadan, kegiatan ini juga bertujuan memperkuat kebersamaan warga sekaligus mengedukasi generasi muda agar lebih aktif beraktivitas positif dan mengurangi penggunaan handphone.
Tradisi tahunan ini telah menjadi agenda rutin yang dinantikan warga. Selain nguri-uri budaya dan kirim doa kepada leluhur, acara tersebut menjadi ruang kebersamaan yang mempertemukan berbagai kalangan dalam suasana religius dan penuh kegembiraan.
Antusiasme masyarakat terlihat sejak awal kegiatan dengan semangat gotong royong menyukseskan acara. Anak-anak menjadi fokus utama melalui lomba keagamaan seperti hafalan Yasin, adzan dan iqomah, hafalan surat pendek, serta doa harian. Melalui kegiatan ini, anak-anak diharapkan semakin dekat dengan masjid dan termotivasi belajar ilmu agama menjelang bulan suci.
Tidak hanya itu, suasana semakin meriah dengan berbagai permainan tradisional seperti makan kerupuk, meletus balon, balap karung, balap kelereng, memasukkan paku dalam botol, makan roti, copil, cokotan kambil, hingga sundul balon. Sebanyak 53 anak berpartisipasi, menciptakan atmosfer hangat sekaligus menjadi sarana edukasi sosial bagi anak-anak agar lebih aktif bermain bersama teman sebaya.
Pengasuh Pondok Pesantren Ar-Ridlotul ‘Ulum sekaligus panitia acara, Muhammad Bahau Syifa’, menilai kegiatan tersebut memiliki nilai strategis dalam pembentukan karakter generasi muda. “Kegiatan ini bukan hanya perlombaan, tetapi sarana mendidik anak-anak agar terbiasa datang ke masjid, rajin mengaji di madrasah, mencintai Al-Qur’an, dan memiliki semangat belajar sejak dini,” jelasnya.
Menurutnya, kegiatan tersebut juga menjadi langkah konkret dalam mengurangi ketergantungan anak pada gadget. “Melalui aktivitas yang positif dan edukatif, anak-anak diajak lebih aktif bersosialisasi dan memanfaatkan waktu dengan kegiatan yang bermanfaat, terutama dalam menyambut Ramadhan,” ujarnya.
Ia menambahkan, kebersamaan warga menjadi kunci keberhasilan kegiatan ini. “Saya harap, tradisi Megengan terus dilestarikan setiap tahun agar melahirkan generasi religius yang berakhlak serta tetap mencintai budaya lokal dan tradisi kirim doa kepada leluhur,” pungkasnya. (*)
Reporter: Herlambang
Editor : Lutfiyu Handi





