21 February 2026

Get In Touch

Peneliti Kembangkan Aplikasi AI untuk Identifikasi Jejak Kaki Dinosaurus

Peneliti Kembangkan Aplikasi AI untuk Identifikasi Jejak Kaki Dinosaurus

SURABAYA ( LENTERA ) - Jejak kaki yang tercetak di lumpur jutaan tahun lalu sering kali menjadi satu-satunya petunjuk tentang siapa yang melintas di bumi purba. Namun selama ini para ilmuwan menghadapi tantangan besar dalam mengidentifikasikan dinosaurus mana yang meninggalkan jejak tersebut, karena bentuk jejak yang berubah karena kondisi tanah dan proses fosilisasi tidak selalu mencerminkan anatomi kaki aslinya. 

Namun, menafsirkan jejak tersebut bukan perkara mudah. Sebuah aplikasi baru yang ditenagai kecerdasan buatan AI kini berpotensi membantu ilmuwan untuk mengidentifikasi jejak kaki dinosaurus.

Para ahli paleontologi menghadapi tantangan besar ketika mencoba mencocokan jejak kaki fosil dengan spesies dinosaurus tertentu, karena bentuk jejak dapat dipengaruhi oleh kondisi tanah saat jejak dibuat. Selama puluhan tahun, para paleontologi memperdebatkan apakah jejak-jejak purba itu ditinggalkan oleh dinosaurus pemangsa yang ganas, pemakan tumbuhan yang relatif jinak, atau bahkan spesies awal burung.

Penelitian yang dipimpin oleh pusat riset Helmholtz Zentrum di Berlin, bekerja sama dengan university of Edinburgh, menggunakan algoritma canggih yang memungkinkan komputer melatih dirinya sendiri untuk mengenali variasi bentuk jejak kaki dinosaurus. Dilansir laman Eurekalert, model AI ini dilatih

menggunakan hampir 2.000 jejak fosil, ditambah jutaan variasi tambahan untuk meniru perubahan realistis, seperti tekanan dan pergeseran tepi jejak. 
Kini peneliti dan penggemar dinosaurus dapat mengunggah foto atau sketsa jejak kaki dari ponsel untuk bisa ke aplikasi dino tracker untuk memperoleh analisis instan. Kajian tentang aplikasi ini dipublikasikan dalam studi berjudul “Identifying variation in dinosaur footprints and classing problematic specimens via

unbiased unsupervised machine learning” yang terbit di jurnal PNAS. Sistem AI ini mampu mengelompokkan jejak kaki dinosaurus dengan tingkat kecocokan yang hamper sama dengan hasil klasifikasi para ahli manusia sekitar 90 persen. 

Berbeda dengan metode tardisional mengharuskan peneliti menyusun kumpulan data komputer secara manual, dimana jejak tertentu dipasangkan dinosaurus tertentu yang menurut para ahli dapat menimbulkan bias. (Ilma – Mahasiswa UINSA, Berkontribusi dalam tulisan ini)
 

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.