24 February 2026

Get In Touch

Indonesia Buka Akses Impor Pangan dari AS

Sekretaris Kabinet (Seskab), Teddy Indra Wijaya.
Sekretaris Kabinet (Seskab), Teddy Indra Wijaya.

SURABAYA (Lentera) – Pemerintah Indonesia pembukaan akses impor sejumlah produk pangan dari Amerika Serikat (AS) berdasarkan The Agreement on Reciprocal Trade (ART) atau Perjanjian Perdagangan Resiprokal. Sekretaris Kabinet (Seskab), Teddy Indra Wijaya, mengatakan impor secara terbatas, terukur, dan tetap mengutamakan kepentingan nasional serta perlindungan industri dalam negeri.

Teddy menjelaskan impor pangan tersebut meliputi, beras, ayam, kedelai, bungkil kedelai, gandum, dan jagung.

Dalam kesepakatan impor beras, Pemerintah menyetujui alokasi impor beras klasifikasi khusus asal AS sebesar 1.000 ton. Namun, realisasinya tetap bergantung pada kebutuhan dan permintaan dalam negeri.

"Dalam lima tahun terakhir, Indonesia tidak melakukan impor beras dari AS. Jika dibandingkan dengan total produksi beras nasional yang mencapai 34,69 juta ton pada 2025, jumlah 1.000 ton tersebut hanya sekitar 0,00003 persen, sehingga dinilai tidak akan berdampak signifikan terhadap produksi maupun harga beras domestic," kata Teddy dalam keterangan tertulis pada Senin (23/2/2026).

Sedangkan, terkait impor ayam, Indonesia mengimpor live poultry dalam bentuk grand parent stock (GPS) sebanyak 580.000 ekor, dengan estimasi nilai 17–20 juta dolar AS. Teddy menyebut GPS dibutuhkan sebagai sumber genetik utama bagi peternak ayam nasional, mengingat Indonesia belum memiliki fasilitas pembibitan GPS sendiri.

Seskab juga mengatakan bahwa impor bagian ayam seperti leg quarters, breasts, legs, atau thighs tetap diperbolehkan. Namun, harus memenuhi persyaratan kesehatan hewan, keamanan pangan, serta ketentuan teknis yang berlaku.

Untuk kebutuhan industri makanan, Indonesia juga mengimpor mechanically deboned meat (MDM) dengan volume sekitar 120.000–150.000 ton per tahun. Bahan ini digunakan sebagai baku produksi sosis, nugget, bakso, dan berbagai produk olahan lainnya.

"Pemerintah memastikan kebijakan tersebut tidak akan mengorbankan peternak dalam negeri. Perlindungan terhadap industri domestik serta keseimbangan pasokan dan harga ayam nasional tetap menjadi prioritas," katanya.

Pemerintah juga memberikan akses impor jagung asal AS untuk kebutuhan bahan baku industri makanan dan minuman (mamin). Pada 2025, kebutuhan jagung untuk sektor ini diperkirakan mencapai 1,4 juta ton.

Jagung asal AS dinilai memiliki spesifikasi dan standar mutu tertentu yang dibutuhkan industri mamin. Sektor ini berkontribusi 7,13 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, menyumbang 21 persen dari total ekspor industri nonmigas atau sekitar 48 miliar dolar AS, serta menyerap hingga 6,7 juta tenaga kerja pada 2025.

Menanggapi potensi membanjirnya produk impor, Teddy menegaskan terdapat forum Council on Trade and Investment antara Indonesia dan AS yang secara periodik membahas implementasi perjanjian, termasuk jika terjadi lonjakan impor yang dapat mengganggu stabilitas pasar domestik.

Dengan skema tersebut, Teddy menegaskan pembukaan kran impor pangan dari AS bukan kebijakan tanpa kendali, melainkan langkah strategis untuk menjamin kecukupan bahan baku industri sekaligus tetap menjaga kepentingan produsen dan petani dalam negeri. (*)


Editor : Lutfiyu Handi
 

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.