03 March 2026

Get In Touch

Bahlil : Stok BBM di Indonesia Masih Cukup untuk 20 Hari Lebih

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia.

JAKARTA (Lentera) - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengatakan stok BBM di Indonesia masih aman di atas 20 hari.

"Masih cukup 20 hari," terang Bahlil di Istana Negara, dikutip cnbcindonesia Selasa (3/3/2026).

Saat ini, pemerintah sedang menghitung dampak dan upaya yang akan dilakukan berkenaan dengan ditutupnya Selat Hormuz, Iran. Setidaknya ini akan memicu terjadinya lonjakan harga atau tersendatnya pasokan.

Bahlil mengatakan akan memberikan laporan kepada Presiden Prabowo Subianto terkait dengan kondisi terkini geopolitik menyangkut penutupan selat Hormuz, terhadap sektor energi.

"Karena ini kita antisipasi tentang pasokan minyak dunia, karena bagaimanapun kita masih melakukan impor 1 juta barel per day," kata Bahlil.

Sayangnya, Bahlil belum bisa mengungkapkan upaya mititgasi yang akan dilakukan pemerintah terkait hal ini. 

Selain itu pihaknya juga akan menggelar rapat dengan Dewan Energi Nasional, untuk membahas dampak dan langkah antisipasi yang akan dilakukan pemerintah.

"Nanti besok Insyaallah saya rapat di ESDM, kami akan rapat dengan Dewan Energi Nasional," kata Bahlil.

Pada kesempatan itu, Bahlil juga menegaskan belum ada permasalahan terhadap nilai subsidi BBM RI dari kenaikan harga minyak dunia saat ini.

"Sampai hari ini gak ada masalah, tapi kan harga dunia akan terjadi koreksi ketika kondisi geopolitik terus memanas di timur tengah," tuturnya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, menilai memproyeksikan harga minyak mentah dunia berpotensi tembus di level US$100 hingga US$120 per barel. Harga minyak telah naik sekitar 13,4% dalam sebulan terakhir, dan reli harga diperkirakan masih berlanjut.

"Selat Hormuz yang terganggu akan mempengaruhi 20% pasokan minyak dunia," ujar Bhima Selasa (3/3/2026).

Menurut Bhima, situasi diperburuk oleh meningkatnya risiko keamanan di kawasan konflik, termasuk penolakan pengajuan asuransi bagi kapal-kapal logistik yang melintasi area tersebut. Hal ini berpotensi menghambat distribusi dan mempersulit proses impor minyak bagi banyak negara, termasuk Indonesia.

Sebagai negara net importir minyak, Indonesia dinilai akan menghadapi konsekuensi fiskal yang signifikan. Dalam simulasi APBN 2026, setiap kenaikan harga minyak sebesar US$1 per barel di atas asumsi APBN dapat menambah beban belanja negara sekitar Rp10,3 triliun

Artinya jika minyak tembus US$100 hingga US$120 per barel maka belanja negara bisa naik hingga Rp515 triliun pada 2026. Bukan hanya beban subsidi BBM, tapi juga kompensasi ke Pertamina, dan beban subsidi listrik.

"Ada beban ganda langsung ke APBN. Kondisi diperburuk oleh kekhawatiran flight to quality dari investor menyebabkan pelemahan rupiah," kata Bhima. (*)


Editor : Lutfiyu Handi

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.