04 March 2026

Get In Touch

Hadapi Risiko Inflasi Jelang Idul Fitri, Pemkot Malang Buka Opsi WTI: BTT Disiapkan

Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat. (Santi/Lentera)
Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat. (Santi/Lentera)

MALANG (Lentera) - Pemerintah Kota (Pemkot) Malang membuka opsi pengaktifan kembali Warung Tekan Inflasi (WTI). Dengan tujuan mengantisipasi risiko kenaikan harga kebutuhan pokok menjelang Idul Fitri 1447 Hijriah. 

Langkah tersebut masih menunggu rekomendasi Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID), sementara anggaran Belanja Tak Terduga (BTT) telah disiapkan sebagai instrumen.

"Kami nanti akan melihat perlu intervensi seperti apa. Apakah nanti dari rekomendasi TPID akan ada pengaktifan kembali Warung Tekan Inflasi seperti tahun kemarin," ujar Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, Rabu (4/3/2026).

Ditambahkannya, tingginya harga cabai di daerah pemasok seperti Banyuwangu, juga menjadi tantangan tersendiri. Pasokan dari Jawa Tengah dan Banyuwangi dinilai belum mampu menekan harga karena di tingkat produsen pun harga masih relatif tinggi.

Terkait kesiapan anggaran, Wahyu memastikan dana BTT telah disiapkan untuk mengantisipasi kemungkinan intervensi. Skema yang disiapkan antara lain pembelian komoditas melalui Kerja Sama Antar Daerah (KAD), kemudian dijual kembali di pasar dengan harga yang sama guna memengaruhi harga pasar.

"Misalkan harganya kami beli Rp80 ribu, nanti kami jual lagi di pasar dengan harga tetap Rp80 ribu. Mau tidak mau pedagang akan mengikuti, atau paling tidak mendekati harga dari Warung Tekan Inflasi," katanya.

Wahyu menegaskan, instrumen fiskal tersedia, namun teknis pelaksanaannya tetap menunggu pemetaan dan rekomendasi TPID. Pemerintah ingin memastikan intervensi tepat sasaran dan efektif menekan gejolak harga.

Dari sisi perkembangan harga, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Malang, Indra Kuspriyadi, mengungkapkan berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik, Indeks Harga Konsumen (IHK) Kota Malang pada Februari 2026 mengalami inflasi sebesar 0,74 persen secara month to month (mtm). 

"Angka tersebut berbalik dari bulan sebelumnya yang mencatat deflasi 0,10 persen (mtm)," ujar Indra. 

Menurutnya, inflasi Februari 2026 terutama didorong oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil 0,48 persen (mtm). 

Secara komoditas, kenaikan harga cabai rawit memberikan andil terbesar yakni 0,20 persen, disusul emas perhiasan 0,17 persen, daging ayam ras 0,10 persen, telur ayam ras 0,07 persen, serta cabai merah 0,02 persen.

Kenaikan harga komoditas pangan tersebut dipicu penurunan pasokan di tengah curah hujan tinggi serta meningkatnya permintaan pada awal Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Ramadan 1447 H. 

Menghadapi potensi tekanan inflasi yang lebih tinggi menjelang Idul Fitri pada Maret 2026, Indra menyebut TPID akan meningkatkan intensitas pemantauan harga dan menyiapkan langkah intervensi. Termasuk melalui operasi pasar guna menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok. (*)

 

Reporter: Santi Wahyu
Editor : Lutfiyu Handi

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.