JAKARTA (Lentera) - Indonesia membutuhkan tambahan 150.000 insinyur selama enam tahun ke depan untuk mendukung pengembangan industri digital.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengatakan kebutuhan ini meningkat khususnya untuk beberapa sektor strategis. Misalnya, industri semikonduktor yang membutuhkan sekitar 15.000 insinyur.
"Kita membutuhkan tambahan 45 persen dari jumlah insinyur saat ini. Secara khusus, kita membutuhkan sekitar 15.000 insinyur untuk industri semikonduktor. Untuk industri digital, kita mungkin membutuhkan tambahan 150.000 insinyur dalam satu hingga enam tahun ke depan," sampainya dalam sebuah pernyataan melansir antara Jumat (6/3/2026).
Dia mengatakan bahwa Kementerian Ketenagakerjaan mempromosikan program pelatihan kejuruan untuk mendukung pelatihan ulang dan peningkatan keterampilan tenaga kerja.
“Lebih lanjut, dengan program yang ditandatangani di London antara Danantara dan ARM Limited, pelatihan akan diberikan kepada 15.000 insinyur dalam ekosistem ARM. Jadi, sekarang kita lebih spesifik menargetkan kebutuhan teknik dari industri yang dipromosikan oleh pemerintah,” kata Hartarto.
Sementara itu, Indonesia juga telah menunjukkan kesiapannya dalam mengembangkan teknologi kecerdasan buatan (AI), menjadi negara pertama di kawasan ASEAN yang menyelesaikan Penilaian Kesiapan AI UNESCO, tambah menteri tersebut.
Menurutnya, pencapaian tersebut membuktikan bahwa negara ini tidak hanya mengadopsi teknologi AI tetapi juga mempersiapkan kerangka hukum, etika, dan sosial yang diperlukan untuk mendorong inovasi di masa depan.
Ia menguraikan bahwa industri yang cepat mengadopsi AI tercatat mencapai pendapatan hingga tiga kali lebih tinggi daripada industri yang beradaptasi lambat, dengan peningkatan produktivitas dari 8,5 persen menjadi 27 persen. Secara global, AI diproyeksikan akan memberikan kontribusi sebesar US$15,7 triliun bagi perekonomian dunia pada tahun 2030.
Sementara itu, bagi Indonesia, teknologi AI generatif diperkirakan akan meningkatkan kontribusi ekonominya hingga US$243,5 miliar, lanjutnya.
"Indonesia menawarkan pasar potensial yang sangat besar untuk masa depan, dan dunia sedang berinvestasi di Indonesia. Meskipun Indonesia merupakan pasar AI utama, kita harus memastikan bahwa kita bukan hanya konsumen teknologi canggih, tetapi juga pencipta dan pemiliknya," tegasnya.
Ia kemudian menarik perhatian pada peran penting para insinyur dalam mendukung pembangunan berkelanjutan.
Untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) pada tahun 2030, dunia diperkirakan membutuhkan investasi tahunan sekitar US$4-7 triliun, khususnya di sektor berbasis teknologi dan ramah lingkungan.
Oleh karena itu, ia mengatakan bahwa digitalisasi dan keberlanjutan bukan lagi konsep yang terpisah tetapi telah menjadi bagian integral dari pembangunan ekonomi modern.
Indonesia saat ini merupakan salah satu pusat inovasi digital di kawasan ini, dengan ekonomi digitalnya diproyeksikan mencapai US$124 miliar pada tahun 2025, terbesar di ASEAN.
Pada tahun yang sama, penetrasi koneksi seluler di Indonesia diperkirakan mencapai 116 persen, dengan sekitar 230 juta pengguna internet dan 180 juta akun media sosial.
Pada tahun 2030, Indonesia menargetkan untuk berada di peringkat 45 teratas dalam Indeks Inovasi Global.
Lebih lanjut, data dari Indeks Keamanan Siber 2024 menunjukkan bahwa Indonesia sudah berada di Tier 1, atau kategori "teladan".
"Peran kita sebagai insinyur dan pembuat kebijakan adalah untuk menyebarkan keberhasilan wilayah Tier 1 ke seluruh negeri, memastikan pertumbuhan digital yang seimbang. Kita harus melampaui inovasi demi inovasi itu sendiri. Alat seperti AI dan Big Data harus digunakan untuk mengatasi kekurangan air, mengoptimalkan jaringan energi, dan menciptakan kota yang tangguh," ujar Hartarto. (*)
Editor : Lutfiyu Handi






