15 March 2026

Get In Touch

Perang Israel–Iran Berpotensi Tekan Pariwisata Global, Akademisi Ubaya Sarankan Strategi Ini

Dosen Program Studi Manajemen Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Surabaya (FBE Ubaya), Dr. Prita Ayu Kusumawardhany.
Dosen Program Studi Manajemen Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Surabaya (FBE Ubaya), Dr. Prita Ayu Kusumawardhany.

SURABAYA (Lentera) - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah akibat konflik antara Israel dan Iran berpotensi berdampak pada berbagai sektor global, termasuk pariwisata. Situasi keamanan yang tidak menentu dinilai dapat menurunkan minat perjalanan internasional serta meningkatkan risiko biaya dan akses transportasi bagi wisatawan.

Dosen Program Studi Manajemen Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Surabaya (FBE Ubaya), Dr. Prita Ayu Kusumawardhany, MM, menyebut pelaku industri pariwisata dan pemerintah perlu menyiapkan sejumlah strategi untuk menjaga stabilitas kunjungan wisata, terutama di destinasi dalam negeri.

Menurutnya, pemerintah dapat memperkuat promosi Indonesia sebagai destinasi yang aman dan stabil melalui kampanye digital guna membangun kepercayaan wisatawan. Selain itu, penguatan pasar wisata jarak dekat atau short-haul traveler serta peningkatan kerja sama dengan maskapai internasional dapat menjadi langkah strategis.

“Koordinasi dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif juga harus dilakukan. Dukungan kepada agen perjalanan domestik, misalnya melalui subsidi tiket perjalanan dalam negeri, bisa menjadi salah satu cara untuk mendorong masyarakat tetap berwisata,” ucapnya, Sabtu (14/3/2026).

Untuk meningkatkan rasa aman bagi wisatawan, Prita juga merekomendasikan penerapan sistem pemantauan berbasis teknologi atau technology-based monitoring di destinasi wisata yang ramai dikunjungi, seperti di kawasan Bali.

Di sisi lain, pelaku usaha pariwisata disarankan menerapkan strategi dual market, yaitu tetap memantau perkembangan wisata internasional sekaligus memperkuat pasar domestik dan regional Asia hingga sekitar 60–70 persen guna menjaga stabilitas arus kas.

“Pelaku usaha juga perlu terus memantau perkembangan informasi dari maskapai penerbangan maupun organisasi penerbangan global seperti International Air Transport Association untuk mengevaluasi risiko dan keamanan penerbangan,” ujarnya.

Menghadapi kondisi pariwisata yang fluktuatif, Prita juga menyarankan diversifikasi paket perjalanan wisata domestik dan regional Asia. Selain itu, pelaku usaha perlu melakukan pembaruan travel advisory secara berkala agar memiliki informasi terbaru yang dapat dijadikan dasar pengambilan keputusan bisnis.

Promosi digital yang menonjolkan destinasi wisata aman, serta penawaran paket perjalanan yang fleksibel seperti jaminan pengembalian dana, juga dinilai dapat membantu meningkatkan minat wisatawan.

Prita menambahkan, terdapat lima faktor utama yang berpotensi memengaruhi sektor pariwisata akibat konflik Israel–Iran. Faktor tersebut meliputi risiko keamanan, keterbatasan transportasi dan aksesibilitas, gangguan psikologis wisatawan, penurunan citra destinasi di kawasan Timur Tengah, serta kenaikan biaya perjalanan.

Akibat berbagai faktor tersebut, Indonesia juga berpotensi mengalami penurunan jumlah wisatawan yang pada akhirnya dapat memengaruhi pendapatan sektor pariwisata secara nasional.

“Meskipun Indonesia relatif aman secara geografis, lonjakan biaya perjalanan dan rute penerbangan yang menjadi lebih panjang tetap perlu disiasati dengan strategi yang tepat,” pungkasnya. (*)

 

Reporter: Amanah
Editor : Lutfiyu Handi

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.