16 March 2026

Get In Touch

Iran Siap Pertahankan Diri Selama Diperlukan

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi

SURABAYA (Lentera) - Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan negaranya siap mempertahankan diri selama diperlukan di tengah konflik yang memanas dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel.

Araghchi mengatakan Iran tidak pernah meminta gencatan senjata maupun negosiasi sejak konflik meningkat. Pernyataan itu disampaikan dalam wawancara dengan CBS News pada Minggu (15/3/2026).

“Kami tidak pernah meminta gencatan senjata, dan kami bahkan tidak pernah meminta negosiasi. Kami siap mempertahankan diri selama diperlukan,” ujar Araghchi seperti dikutip dari kantor berita Sputnik, Senin (16/3/2026).

Dalam kesempatan itu, Araghchi juga memperingatkan AS bahwa serangan terhadap Iran tidak akan menghasilkan kemenangan. “Amerika Serikat harus memahami bahwa menyerang Iran tidak akan membawa kemenangan,” katanya.

Araghchi juga menjelaskan situasi pelayaran di Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur energi paling strategis di dunia. Menurutnya, beberapa negara telah menghubungi Iran untuk meminta jaminan keamanan agar kapal mereka dapat melintas di selat tersebut.

“Kami telah didekati oleh sejumlah negara yang ingin memastikan kapal mereka dapat melintas dengan aman. Keputusan ada di tangan militer kami, dan mereka telah memutuskan untuk mengizinkan sekelompok kapal dari berbagai negara melintas dengan aman,” jelasnya.

Ia menambahkan Iran memberikan pengamanan terhadap kapal-kapal tersebut selama melintas di Selat Hormuz.

Dalam wawancara itu, Araghchi juga mengungkapkan bahwa Iran sebenarnya pernah siap memberikan konsesi dalam perundingan dengan AS terkait program nuklirnya.

Salah satu tawaran yang diajukan adalah mengurangi tingkat pengayaan uranium hingga di bawah 60 persen.

“Salah satu unsur dalam kesepakatan menyangkut material uranium Iran yang diperkaya hingga 60 persen. Saya menawarkan bahwa kami siap mengencerkan material itu menjadi tingkat yang lebih rendah,” ujarnya.

Menurut Araghchi, langkah tersebut merupakan konsesi besar untuk membuktikan bahwa Iran tidak memiliki niat dan tidak pernah ingin mengembangkan senjata nuklir.

Araghchi juga menyatakan fasilitas nuklir Iran saat ini mengalami kerusakan parah setelah diserang AS. Ia mengatakan material nuklir yang ada kini berada di bawah puing-puing fasilitas tersebut.

“Fasilitas nuklir kami diserang dan semuanya kini berada di bawah reruntuhan,” ujar Araghchi.

Meski secara teknis material tersebut masih dapat diambil kembali, ia menegaskan langkah itu hanya mungkin dilakukan di bawah pengawasan International Atomic Energy Agency (IAEA).

“Ada kemungkinan untuk mengambilnya kembali, tetapi harus di bawah pengawasan badan tersebut. Untuk saat ini kami tidak memiliki program atau rencana untuk memulihkannya dari bawah reruntuhan,” katanya.

Araghchi juga menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada proposal konkret yang diajukan untuk menyelesaikan konflik di Timur Tengah.

“Jika suatu saat kami memutuskan untuk melakukan negosiasi dengan Amerika Serikat atau pihak lain, barulah kami akan menentukan apa yang akan dibahas,” ujarnya. (*)


Editor : Lutfiyu Handi

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.