16 March 2026

Get In Touch

Harga Minyak Terus Naik, Dampak Penutupan Selat Hormuz

Ilustrasi kilang minyak.
Ilustrasi kilang minyak.

SURABAYA (Lentera) - Harga minyak terus naik karena pasar tidak melihat tanda-tanda berakhirnya penutupan Selat Hormuz. Minyak mentah Brent, patokan terpenting untuk harga global, naik hingga 3 persen pada hari Minggu (15/3/2026) hingga mencapai lebih dari $106 per barel, sebelum sedikit turun pada Senin pagi.

Melansir aljazeera, Brent berada di $104,63 per barel pada pukul 04:30 GMT, naik hampir 1,5 persen.

Kenaikan terbaru ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump meminta negara-negara lain untuk membantu Washington membuka kembali Selat tersebut, yang biasanya mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak global.

Namun, usulan Trump sejauh ini mendapat respons yang kurang antusias, dengan tidak satu pun negara yang ia sebutkan namanya – termasuk China, Jepang, Prancis, dan Inggris – secara terbuka berkomitmen untuk mengerahkan angkatan laut mereka untuk mengamankan selat tersebut.

Dalam sebuah wawancara dengan The Financial Times pada hari Minggu (15/3/2026), Trump mengatakan bahwa NATO akan menghadapi masa depan yang "sangat buruk" jika proposalnya tidak mendapat "tanggapan, atau jika tanggapannya negatif".

Di satu sisi, Jepang dan Australia pada hari Senin (16/3/2026) sama-sama mengatakan bahwa mereka tidak berencana untuk mengirim kapal ke jalur perairan penting tersebut.

Iran telah menghentikan pengiriman di selat tersebut sebagai pembalasan atas serangan AS dan Israel terhadap negara itu, yang mengakibatkan apa yang disebut oleh Badan Energi Internasional sebagai gangguan terbesar terhadap pasokan energi global dalam sejarah.

Harga minyak global telah naik lebih dari 40 persen sejak awal perang, mendorong kenaikan harga bahan bakar dan meningkatkan kekhawatiran akan perlambatan ekonomi global.

Menurut pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO), tidak lebih dari lima kapal telah melewati selat tersebut setiap hari sejak awal perang, dibandingkan dengan rata-rata historis 138 transit harian.

Setidaknya 16 kapal komersial telah diserang di wilayah tersebut sejak perang dimulai pada 28 Februari, menurut UKMTO.

Trump telah berulang kali mengatakan bahwa ia bersedia mengerahkan Angkatan Laut AS untuk mengawal pelayaran komersial melalui selat tersebut, yang berbatasan dengan Iran, Oman, dan Uni Emirat Arab, jika perlu.

Para pejabat pemerintahan Trump mengatakan bahwa kapal perang tidak akan dikerahkan ke jalur air tersebut sampai kapasitas militer Teheran semakin melemah, tetapi mereka memperkirakan operasi semacam itu akan segera dimulai. (*)


Editor : Lutfiyu Handi

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.