SURABAYA (Lentera) – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur memperkirakan jumlah wisatawan selama Lebaran 2026 mencapai sekitar 12 juta orang, atau setengah dari total pergerakan pemudik yang diprediksi mencapai 24 juta orang di Jawa Timur.
Angka tersebut meningkat dibandingkan capaian tahun sebelumnya yang berada di kisaran 18 juta pemudik, dengan separuhnya tercatat sebagai wisatawan. “Biasanya sekitar 50 persen pemudik itu juga berwisata. Tahun ini diperkirakan bisa mencapai 12 jutaan wisatawan,” Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur, Evy Afianasari, Selasa (17/3/2026).
Sementara itu, pada periode Natal dan Tahun Baru (Nataru) sebelumnya, kunjungan wisatawan di Jawa Timur mencapai sekitar 10 juta orang, melampaui target awal sebesar 8 juta.
Evy optimistis, lonjakan pergerakan saat Lebaran akan berdampak langsung pada peningkatan kunjungan wisata. Apalagi pemerintah juga terus menggencarkan kampanye “Aman Nyaman Wisata di Jawa Timur”.
Sebagai langkah antisipasi lonjakan pengunjung, pemerintah provinsi juga telah menyiapkan skema pengendalian di destinasi wisata. Salah satunya melalui pembatasan kuota pengunjung serta kewajiban penyediaan rest area bagi wisatawan.
“Sudah ada imbauan dalam surat edaran gubernur, termasuk pembatasan kuota dan penyediaan rest area. Ini untuk memastikan wisata tetap aman dan nyaman,” pungkasnya.
Di satu sisi, Evy menjelaskan bahwa tren wisata saat ini turut dipengaruhi kebijakan efisiensi, khususnya pada perjalanan berbasis bisnis dan leisure (bleisure). Kondisi tersebut berdampak pada menurunnya penggunaan hotel, terutama hotel berbintang.
“Kalau dilihat, memang ada penurunan di sektor tertentu seperti hotel berbintang. Tapi ini lebih karena efisiensi dan perubahan pola perjalanan wisata, bukan karena minat wisatawan menurun,” ujarnya.
Ia menambahkan, perhitungan pergerakan wisatawan secara nasional juga menjadi faktor yang memengaruhi data tersebut. Sistem pencatatan yang digunakan masih mengacu pada durasi perjalanan minimal empat jam, sehingga pergerakan wisata lokal di Jawa Timur kerap tidak terhitung.
“Di Jawa Timur, jarak antar destinasi relatif dekat, bahkan bisa ditempuh kurang dari satu jam. Sementara sistem nasional menghitung pergerakan minimal empat jam. Jadi seolah-olah pergerakan turun, padahal sebenarnya tidak,” jelasnya.
Evy menyebut pihaknya terus mendorong pemerintah pusat untuk melakukan reformulasi metode penghitungan agar lebih relevan dengan kondisi daerah, khususnya wilayah dengan banyak destinasi wisata yang berdekatan seperti Jawa Timur.
Untuk libur Lebaran tahun ini, sejumlah destinasi wisata unggulan diprediksi masih menjadi favorit masyarakat. Di antaranya kawasan wisata Sarangan, Kebun Binatang Surabaya, serta destinasi keluarga seperti Jatim Park.
“Wisata keluarga masih mendominasi. Sarangan, Kebun Binatang Surabaya, dan Jatim Park masih masuk tiga besar destinasi yang paling diminati,” katanya.
Dari sisi pengawasan, Disbudpar Jatim memastikan telah melakukan langkah antisipatif, khususnya terkait potensi bencana. Pengawasan dilakukan secara terpadu bersama polisi pariwisata, termasuk pengecekan sistem peringatan dini, jalur evakuasi, hingga kesiapan rest area di setiap destinasi.
“Setiap pengelola destinasi wajib melaporkan kondisi harian ke dinas kabupaten/kota, lalu diteruskan ke provinsi. Jadi kalau ada kejadian, penanganannya bisa cepat,” ungkapnya. (*)
Editor : Lutfiyu Handi





