JAKARTA (Lentera) - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat setelah 3 rudal balistik terdeteksi mengarah ke ibu kota Arab Saudi, Riyadh, pada Minggu (22/3/2026). Insiden ini terjadi di tengah eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel versus Iran.
Juru bicara Kementerian Pertahanan Arab Saudi menyampaikan satu dari 3 rudal tersebut berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara. Sementara itu, 2 rudal lainnya dilaporkan jatuh di wilayah tak berpenghuni.
"Satu rudal berhasil diintercept, sementara dua lainnya jatuh di kawasan tak berpenghuni," ujar juru bicara Kementerian Pertahanan Saudi melalui media sosial, dikutip dari AFP.
Insiden ini memicu kewaspadaan tinggi di kalangan otoritas setempat. Pada Minggu dini hari, Pertahanan Sipil Arab Saudi sempat mengeluarkan peringatan kepada masyarakat terkait potensi ancaman serangan.
Namun, peringatan tersebut dicabut selang 7 menit kemudian. Usai pihak berwenang memastikan situasi telah terkendali dan tidak lagi membahayakan.
Selain rudal balistik, Kementerian Pertahanan Saudi juga mengungkapkan pihaknya berhasil mencegat 5 drone sejak tengah malam waktu setempat.
Meski demikian, mengutip Kumparan, hingga saat ini belum ada pihak yang mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Editor:Santi,ist




