OPINI(Lentera) -Asap rokok bagi orang lain, dipercaya bisa jadi penyakit. Namun bagi keluarga Hartono? Justru malah jadi cuan. Kok begitu?
Kadang, dunia memang begitulah. Sering tipu-tipu. Indahnya gunung dari kejauhan. Didekati.....eh, batu-batu melulu.
Apakah asap rokok menipu? Terserah penilaian anda. Yang jelas, dari asap rokok itu, mengalir deras cuan.
Setelah meninggalnya Michael Bambang Hartono (86). Kerajaan Djarum jadi perbincangan hangat. Beruntunglah pewarisnya. Meskipun gempuran hebat cukai rokok tiada henti, Djarum tetap berkibar.
Apalagi, tahun ini Menkeu Purbaya memutuskan tidak menaikkan cukai rokok.
Tak jelas, berapa cuan Djarum dari bisnis rokok ini. Beda dengan Gudang Garam (GG) yang go public.
Djarum memang bukan perusahaan go public di pasar modal. Sehingga tak bisa diketahui neraca rugi dan labanya.
Meski begitu, para analis yang mengintip keuntungan Djarum, mengestimasi cuan per tahun mencapai Rp 12 triliun hingga Rp 15 triliun.
Itu berarti dua -tiga kali lebih besar dari Gudang Garam (GG). Wouw amazing....!!! Sungguh luar biasa. Langka untuk sebuah perusahaan privat.
Bagaimana mungkin GG yang pada era 1970-an pegang predikat "Raja Kretek" akhirnya tumbang atas keperkasaan Djarum.
Melalui produk "Djarum Super", dengan kemasan modern nan indah, banyak anak muda terpikat. Mereka bangga mengenakan baju transparan di sakunya terlihat "Djarum Super".
Inovasi produk berupa Low Tar Low Nicotine (LTLN), merontokkan dominasi GG jauh di atas awan. Tahun 2025 kemarin estimasi cuan bersih Djarum mencapai Rp 13,5 T.
Jauh dari cuan GG yang hanya Rp 5,2 T. Dan HM Sampoerna yang Rp 7,5 T. Pencapaian spektakuler. Tapi jangan keburu terpesona dengan angka itu.
Sebab bisnis keluarga Hartono ini bukan hanya rokok. Dengan pondasi pabrik rokok yang kokoh, bisnis makin berkembang.
Diversifikasi
Diversifikasi pun dilakukan. Maka bisnis pun seperti gurita yang menari-nari di laut. Tarian bisnisnya kemana-mana. Setiap cabang menghasilkan cuan jumbo.
Yang paling top dari salah satu tangan gurita itu adalah Bank Central Asia (BCA). Ya, siapa yang tak kenal BCA. Raksasa perbankan swasta yang mendunia.
Jika pabrik rokok adalah pondasi. Maka BCA ibaratnya mesin pencetak uang. Sektor perbankan ini adalah andalan utama.
Di dunia pasar modal, BCA sangat terkenal. Sahamnya yang berkode BBCA sangat diminati investor asing. Kenapa asing lebih berminat ? Tentu karena melihat bagusnya kinerja bank papan atas ini.
Emiten BCA menjadi penopang utama Indek Harga Saham Gabungan (IHSG).
Laba bersih BCA tahun buku 2024 mencapai Rp 54,1 triliun. Sedangkan tahun 2025 kemarin, sedikit menurun jadi Rp 50 triliun.
Dibanding hasil rokok yang hanya Rp 15 triliun. Tiga kali lipat lebih.Di BCA ini, keluarga Hartono adalah pemegang saham mayoritas.
Melalui PT Dwi Muria Investama Andalan, keluargaini menguasai saham 54,9 persen. Dengan hanya ongkang-ongkang, duduk manis di rumah saja.
Hasil deviden dan capital gain yang didapat mencapai puluhan triliun. Bayangkan......!!!. Ini baru dari BCA. Penghasilan tingkat apa ?. Ada yang menyebut tingkat Dewa.
Memangnya Dewa di Kahyangan juga berbisnis ? Ah.....terserah anda, mau ngomong apa. Yang jelas, sekali cuan dari BCA itu dalam setahun, bisa mengenyangkan perut orang seprovinsi padat penduduk dalam setahun.
Taruhlah, Provinsi Jawa Timur (Jatim). Penduduknya berjumlah 40 juta lebih. Dengan Rp 50 triliun, harga beras SPHP Bulog Rp 12.500 per kg. Berarti diperoleh 43,4 juta ton lebih.
Konsumsi beras rata2 orang Indonesia 92,1 kg/kapita/tahun. 4.000.000 ton atau 4.000.000.000 kg : 92,1 kg = 43,4 juta. Bukan main.....!!!.
Tak berhenti di sini. Tangan gurita bisnis Djarum lainnya adalah perusahaan elektronik di Kudus.Memproduksi TV dan kulkas. Merk Polytron, menguasai pasar segmen menengah ke bawah.
Karena banyak menggunakan komponen dalam negeri, harga produk bisa bersaing dengan kompetitor. Cuan pun mengalir.
Ada lagi bisnis lainnya. Sektor Menara & Infrastruktur. Penggunaan internet dan handphone yang terus meningkat, tak luput dari pengamatan.
Ia pun terjun bisnis di bidang ini untuk menyewakan menara. Melalui PT Menara Sarana Nusantara (TOWR), mereka menguasai infrastruktur telekomunikasi.
Tarip sewa menara, itu tinggi. Jangan bandingkan dengan sewa kost-kost an buruh pabrik yang Rp 300 ribu/bulan.
Masih ada lagi Bro bisnisnya. Ya Tuhan. Apa itu? Sektor E-Commerce, dirambahnya melalui Blibli/Tiket.com.
Sudah habis? Belum, masih ada lagi.
Bidang properti, dengan bendera Grand Indonesia di Jakarta dan Klub sepakbola Italia, Como 1907.
Apalagi?
Ada di sektor perkebunan. Kebun kelapa sawit. Melalui PT Hartono Plantation Indonesia (HPI Agro), ia memiliki lahan sawit yang luas. Sekaligus pabrik minyak sawitnya di Kabupaten Landak, Kalbar.
Manajemen Djarum memang visioner. Kebutuhan sawit tak permah ada habisnya. Selain untuk minyak goreng dan kosmetik. Kini dibuat campuran solar. Makin kinclong aja bisnis keluarga Hartono.
Kekayaan alm Michael Bambang Hartono berkisar antara Rp 297 triliun - Rp 330 triliun. Ttergantung fluktuasi kurs dan nilai pasar saham. Dengan gaya hidup glamour pun, warisannya mungkin tak habis untuk tujuh turunan (*)
Penulis: Subakti Sidik, Wartawan Senior|Editor: Arifin BH



