26 March 2026

Get In Touch

Sejalan dengan Pusat, Pemkot Malang Nilai Tatap Muka Lebih Efektif bagi Siswa

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang, Suwarjana. (Santi/Lentera)
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang, Suwarjana. (Santi/Lentera)

MALANG (Lentera) - Pemerintah Kota (Pemkot) Malang menilai pembelajaran tatap muka lebih efektif bagi siswa, sejalan dengan kebijakan pemerintah pusat yang tetap memprioritaskan proses belajar secara langsung di tengah situasi krisis global.

"Kalau kami memang mengharapkan jangan daring dulu. Karena daring itu pasti efeknya pertama untuk siswa," ujar Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang, Suwarjana, Rabu (25/3/2026).

Menurutnya, selain berdampak pada siswa, pembelajaran dalam jaringan (daring) juga berpotensi menambah beban bagi orang tua. Hal ini berkaitan dengan kebutuhan pendampingan selama proses belajar di rumah hingga pengeluaran tambahan untuk paket data internet.

"Yang jelas pasti orang tua akan mengeluarkan biaya yang lebih. Karena kita sudah ada pengalaman di saat pandemi Covid-19," jelasnya.

Lebih lanjut, Suwarjana juga menyoroti potensi kendala dalam pencapaian target kurikulum apabila pembelajaran tidak dilakukan secara penuh tatap muka. Ia mempertanyakan efektivitas waktu belajar jika sistem daring atau hybrid diterapkan.

"Nanti pendidik ini nutut tidak untuk kurikulum yang harus diselesaikan di satu semester. Yang biasanya diselesaikan lima hari, sementara harus diselesaikan dua hari per minggu misalnya," ungkapnya.

Ditambahkannya, penyesuaian jam tatap muka juga akan menjadi tantangan tersendiri bagi tenaga pendidik. Sebab, setiap mata pelajaran memiliki alokasi waktu yang harus dipenuhi dalam satu minggu pembelajaran.

Dalam hal ini, kebijakan Pemkot Malang tersebut sejalan dengan arahan pemerintah pusat. Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko-PMK), Pratikno, menegaskan proses pembelajaran siswa tetap diutamakan berjalan secara luring di tengah situasi krisis global.

Menurut Pratikno, keputusan tersebut merupakan hasil koordinasi lintas kementerian, termasuk bersama Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah serta Menteri Agama. Ia menekankan pentingnya menjaga kualitas pendidikan agar tidak terjadi learning loss.

"Di sektor pendidikan, proses belajar harus semakin optimal dan jangan sampai ada learning loss," ujar Pratikno dikutip dari laman Kemenko-PMK, Rabu (25/3/2026).

Ia juga mengungkapkan wacana penerapan metode hybrid, yakni kombinasi daring dan luring, memang sempat menjadi bahan diskusi. Namun, berdasarkan hasil pembahasan, pembelajaran daring dinilai belum menjadi kebutuhan mendesak saat ini.

Pratikno menegaskan, pemerintah tengah fokus pada peningkatan kualitas pendidikan secara menyeluruh. Hal tersebut mencakup berbagai program prioritas, seperti revitalisasi sekolah hingga pengembangan sekolah unggulan.

"Sebagaimana prioritas luar biasa Bapak Presiden kepada sektor pendidikan, mulai dari revitalisasi sekolah, Sekolah Rakyat, dan Sekolah Unggul Garuda, maka kita harus mempercepat peningkatan kualitas pendidikan secara umum," katanya.


Reporter: Santi Wahyu/Editor: Ais

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.