02 April 2026

Get In Touch

Inflasi RI di 2026 Diramal Naik Jadi 3,4% Dipicu Tekanan Global

Ilustrasi:Inflasi Indonesia diproyeksikan naik pada tahun 2026 ini. (foto:Pasardana)
Ilustrasi:Inflasi Indonesia diproyeksikan naik pada tahun 2026 ini. (foto:Pasardana)

JAKARTA (Lentera) - Inflasi Indonesia pada 2026 diramal naik menjadi 3,4 persen akibat tekanan global, terutama dari sektor energi dan ketidakpastian geopolitik. Hal tersebut berdasarkan proyeksi terbaru dari Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD).

"Proyeksi ini bergantung pada asumsi teknis bahwa tingkat gangguan pasar energi saat ini akan mereda seiring waktu, dengan harga minyak, gas, dan pupuk menurun secara bertahap mulai pertengahan tahun 2026 dan seterusnya," tulis OECD dalam laporannya dikutip dari Bloomberg, Senin (30/3/2026).

Sebelumnya, OECD memproyeksikan inflasi utama (head inflation) Indonesia pada tahun 2026 ini di angka 3,1%, kemudian naik sekitar 0,3 poin lebih tinggi, yakni 3,4%. 

Namun tekanan tersebut diperkirakan hanya sementara, karena inflasi diproyeksikan akan kembali mereda dan turun pada level 2,6% pada tahun 2027.

Sementara itu, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tingkat inflasi sepanjang 2025 tercatat mencapai 2,92% secara tahunan atau year-on-year(yoy), melonjak dibanding inflasi sepanjang 2024 yang berada di angka 1,57% yoy.

Dalam laporan terbarunya bertajuk OECD Economic Outlook, Interim Report: Testing Resilience edisi Maret 2026, OECD juga menggarisbawahi moderasi inflasi pada 2027 akan dirasakan oleh beberapa negara ekonomi berkembang. Di antaranya, yakni Indonesia, Brasil, Meksiko, dan Afrika Selatan.

Secara keseluruhan, OECD memproyeksikan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) global akan melambat menjadi 2,9% pada 2026. Dibandingkan realisasi pertumbuhan 3,3 pada tahun lalu, sebelum sedikit merangkak naik ke posisi 3,0% pada 2027.

OECD menekankan, eskalasi yang terus meningkat di Timur Tengah pasca serangan Israel-AS ke Iran pada akhir Februari lalu menyebabkan guncangan harga energi dan pupuk yang lebih tinggi. Akibatnya, inflasi global meningkatkan dan tingkat permintaan global tertekan. 

Ketidakpastian geopolitik itu pun diperkirakan akan menahan daya ungkit dari momentum kuatnya produksi dan investasi yang berkaitan dengan teknologi, kebijakan moneter dan fiskal yang suportif, serta tingkat tarif efektif yang lebih rendah dari asumsi sebelumnya.

Meski inflasi diperkirakan naik, bank sentral diperkirakan akan tetap menjaga suku bunga di tingkat rasional. Keputusan Bank Indonesia (BI), termasuk suku bunga acuan, dinilai masih seimbang untuk meminimalkan risiko volatilitas mata uang dan menjaga ekspektasi inflasi tetap terkendali ke depannya.

Editor:Santi

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.