JAKARTA (Lentera) - Kementerian Pertahanan (Kemenhan) memastikan pembelian pesawat tempur KAAN dari Turkish Aerospace Industries, melalui skema pinjaman luar negeri.
Hal tersebut dikatakan pihak Kemenhan, merespon isu Indonesia membeli pesawat tempur generasi ke lima tersebut dari Turki.
"Untuk KAAN, sudah ada kontrak awal dalam jumlah terbatas yang saat ini masih dalam proses aktivasi melalui mekanisme pinjaman luar negeri (PLN) bersama Kementerian Keuangan," kata Kepala Biro Informasi Pertahanan (Karo Infohan) Sekretariat Jenderal Kemenhan, Brigadir Jenderal TNI Rico Ricardo Sirait saat dikonfirmasi Antara di Jakarta dikutip, Kamis (2/4/2026).
Beredar informasi bahwa Indonesia menyepakati pembelian 48 pesawat tempur KAAN, informasi itu diunggah akun instagram khusus informasi bidang pertahanan @isds.indonesia.
Unggahan akun instagram tersebut, menjelaskan kontrak pembelian pesawat tempur itu diteken pihak Kementerian Pertahanan dan Turkish Aerospace Industries saat gelaran pameran IDEF, Istanbul pertengahan 2025 lalu.
Akun instagram itu menyebut, nilai kontrak pembelian pesawat tempur sebesar 15 miliar dolar AS atau Rp251 triliun.
Sebelumnya diberitakan, Kemenhan RI secara resmi menandatangani kontrak pembelian 48 pesawat tempur KAAN dari pemerintah Turki.
Penandatanganan kontrak implementasi antara perwakilan pemerintah Indonesia dan Turki itu, disaksikan langsung Menteri Pertahanan, Sjafrie Sjamsoeddin dalam rangkaian pameran pertahanan internasional (IDEF) 2025 di Istanbul, Turki, Sabtu (26/7/2025) lalu.
"Penandatanganan ini merupakan tindak lanjut dari kesepakatan Government-to-Government (G2G) yang telah ditandatangani sebelumnya pada 11 Juni 2025," kata Kepala Biro Infohan Sekretariat Jenderal Kemenhan, Brigadir Jenderal Frega Wenas Inkiriwang dalam siaran persnya di Jakarta mengutip Antara, Senin (28/7/2025).
Melalui kerja sama ini, Indonesia akan mendapatkan banyak keuntungan, mulai dari pengembangan industri pertahanan dalam negeri hingga peningkatan kualitas SDM di bidang teknologi pertahanan.
Selain itu, Indonesia juga akan diuntungkan karena akan kedatangan alutsista baru yang akan memperkuat pertahanan udara.
"Basis industri lokal yang akan dibentuk di Indonesia diharapkan menjadi bukti nyata dari kemitraan yang saling menguntungkan dan berlandaskan pada persahabatan," kata Frega.
Namun demikian, Frega tidak menjelaskan kapan kontrak efektif itu akan berjalan serta tenggat waktu pembuatan pesawat hingga sampai ke Indonesia.
Frega melanjutkan, dengan adanya pembelian alutsista ini, hubungan militer antara Indonesia dan Turki bisa berjalan dengan baik.
Dia juga berharap ke depan terjalin kerja sama lain di bidang pertahanan yang dapat menguntungkan kekuatan militer Indonesia maupun Turki.
"Kolaborasi antara Indonesia dan Turki di bidang pertahanan ini menunjukkan eratnya hubungan bilateral kedua negara, tidak hanya diplomasi pertahanan, tetapi juga transfer teknologi dan peningkatan kemandirian industri pertahanan nasional," tutup Frega.
Editor: Arief Sukaputra




