PALANGKA RAYA (Lentera) – Pemerintah Kota (Pemkot) Palangka Raya mengevaluasi capaian Pendapatan Asli Daerah (PAD) triwulan pertama (Januari–Maret) 2026, hasil awal menunjukkan pajak daerah sudah melampaui target tapi retribusi masih tertinggal.
Terkait hal ini, Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Palangka Raya, Arbert Tombak mengatakan target ideal PAD pada triwulan pertama sebesar 20 persen, sementara realisasi pajak sudah menembus di atas 25 persen, sedangkan retribusi rata-rata baru sekitar 15 persen.
“Untuk pajak sudah melampaui target, yaitu di atas 25 persen, sedangkan retribusi masih di kisaran 15 persen, jadi masih di bawah target 20 persen,” papar Abert, Jumat (3/4/2026).
Ia melanjutkan, saat ini Pemkot masih menelusuri penyebab rendahnya serapan retribusi. Salah satu faktor yang disorot adalah perputaran ekonomi daerah yang masih sangat bergantung pada realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
Abert berpendapat, daya beli masyarakat di awal tahun belum optimal karena belanja pemerintah baru berjalan maksimal menjelang akhir triwulan pertama.
“Hal ini karena dari Januari sampai Maret, ada sumber PAD yang menunggu anggaran pemerintah digelontorkan dulu, disatu sisi APBD baru maksimal dibelanjakan di Maret, sementara belanja masyarakat sangat dipengaruhi belanja negara,” jelasnya.
Arbert menambahkan, saat belanja pemerintah mulai bergerak, daya beli ikut terdongkrak dan berdampak pada penerimaan pajak, seperti restoran dan hiburan.
Dapat disimpulkan, jika belanja negara stabil, maka PAD ikut naik dan UMKM juga ikut bergerak.
"Pemkot Palangka Raya akan menindaklanjuti dengan merumuskan strategi guna meningkatkan retribusi, melalui evaluasi lebih rinci, termasuk potensi kekayaan daerah yang akan dibahas dalam rapat teknis bersama instansi terkait," pungkasnya.
Reporter: Novita/Editor: Ais




