JAKARTA (Lentera) - Industri tekstil dalam negeri mulai ketar-ketir setelah harga bahan baku utama melonjak hingga 40 persen dalam dua pekan terakhir, imbas memanasnya konflik di Timur Tengah.
Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI), Redma Gita Wirawasta, mengungkapkan harga paraxylene yang merupakan bahan baku utama polyester, kini telah menembus USD 1.300 per ton.
"Kenaikan ini sangat signifikan dan menjadi tekanan berat bagi industri, khususnya di sektor hulu," ujar Redma dalam keterangannya, melansir Bloomberg, Selasa (7/4/2026).
Menurutnya, dampak kenaikan harga bahan baku tersebut belum sepenuhnya dirasakan oleh sektor hilir. Namun, ia memperingatkan adanya efek domino yang akan bergerak secara bertahap dalam beberapa pekan ke depan.
Redma menjelaskan, dalam waktu satu minggu ke depan, kenaikan harga akan mulai dirasakan oleh produsen kain. Selanjutnya, dalam dua minggu berikutnya, dampak tersebut akan menjalar ke industri pakaian jadi.
"Dalam satu minggu ke depan akan terdistribusi ke produsen kain, dan dua minggu berikutnya akan sampai ke sektor pakaian jadi," jelasnya.
Tidak berhenti di situ, sektor ritel juga diperkirakan akan melakukan penyesuaian harga seiring meningkatnya biaya produksi di sepanjang rantai pasok industri tekstil. Konsumen pun berpotensi menghadapi kenaikan harga produk jadi dalam waktu dekat.
"Diperkirakan kenaikan harga di sektor ritel bisa mencapai sekitar 10 persen," kata Redma.
Meski demikian, dari sisi permintaan, APSyFI mencatat kondisi pasar masih relatif stabil. Bahkan, terdapat kecenderungan peningkatan permintaan terhadap produk dalam negeri seiring naiknya harga bahan baku impor yang turut terdampak kondisi global.
Redma menilai, kondisi ini bisa menjadi peluang bagi industri domestik untuk memperkuat posisi di pasar dalam negeri, meskipun tekanan harga tetap menjadi tantangan utama.
"Hingga saat ini, bahan baku baik untuk polyester maupun rayon yang diproduksi di dalam negeri masih tersedia. Tidak ada kendala dari sisi pasokan, hanya saja harganya yang mengalami kenaikan," pungkasnya.
Editor:Santi




