SURABAYA (Lentera) -AirAsia X mengumumkan rencana kenaikan harga tiket pesawat hingga 40 persen, imbas konflik Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Chief Commercial Officer AirAsia X, Amanda Woo menjelaskan bahwa kenaikan harga tiket pesawat merupakan kondisi yang tidak dapat dihindari, tetapi pihaknya berkomitmen menjaga tarif tetap terjangkau sebagai prioritas utama selama periode sulit ini.
“Sebagai maskapai penerbangan dengan kapasitas terbesar di pasar ASEAN, terutama di dalam negeri, kami mampu mendistribusikan biaya tambahan bahan bakar ini dengan sangat hati-hati ke berbagai rute yang menurut kami benar-benar dapat menutup biaya tambahan bahan bakar yang tinggi saat ini,” kata Amanda.
Maskapai penerbangan berbiaya rendah (low cost carrier) asal Malaysia ini juga bakal menaikkan biaya tambahan bahan bakar sebesar 20 persen dari sebelumnya.
Menurut CEO AirAsia Aviation Group Bo Lingam, biaya rata-rata avtur melonjak menjadi 200 dolar AS atau sekitar Rp 3,4 jutaan per barel dari sekitar 90 dolar AS atau sekitar Rp 1,5 jutaan per barel, seperti dikutip The Business Times.
Kondisi ini menjadi pukulan sangat keras bagi anak perusahaan AirAsia yang melayani rute penerbangan jauh tersebut.
Belum lagi, lanjut Bo Lingam, grup maskapai penerbangan ini juga menghadapi ancaman kelangkaan pasokan bahan bakar pesawat di seluruh kawasan, mulai dari Vietnam hingga Filipina, termasuk di pasar asalnya, Malaysia.
“Kita sudah melewati banyak hal, ini bukan hal baru bagi kita. Ukraina pernah mengalaminya beberapa tahun yang lalu, harga minyak kemudian naik hingga 120 dolar AS per barel, ditambah Covid-19 pada waktu yang bersamaan, dan kita berhasil melewatinya,” tutur pendiri sekaligus CEO AirAsia, Tony Fernandes.
Strategi AirAsia X
Amanda menuturkan salah satu langkah mengurangi dampak kenaikan tarif dasar pesawat adalah pengurangan biaya bagasi yang dipesan sebelumnya oleh maskapai.
Saat ini, lanjutnya, permintaan penerbangan domestik dan internasional AirAsia X tetap kuat, dan menekankan bahwa maskapai tetap berkomitmen untuk mendukung kampanye Visit Pihak manajemen bersiap memotong kapasitas hingga mengurangi biaya bila diperlukan, seperti disampaikan Tony.
Mengutip Kompas, maskapai ini telah memangkas sekitar 10 persen penerbangan grup setelah libur Idul Fitri dan mengurangi rute-rute penerbangan yang dianggap tidak menguntungkan.
Pengurangan beberapa rute penerbangan bersifat sementara, sementara sebagian lainnya permanen.
Lingam menambahkan, perusahaan juga tengah menyesuaikan penempatan pesawat dan memajukan jadwal pemeriksaan pemeliharaan untuk mengelola biaya.
AirAsia x tidak melakukan hedging atas biaya bahan bakarnya, sekaligus sedang menunggu rincian lebih lanjut dari pemerintah mengenai ketersediaan bahan bakar dalam beberapa bulan mendatang.
Sementara itu, Amanda mengungkapkan bahwa tiket pesawat dari Eropa dan wilayah lain ke Asia terus meningkat.
AirAsia Group pun berencana meningkatkan frekuensi penerbangan ke Asia Tengah, termasuk Istanbul, sekaligus tengah menjajaki kemitraan dengan maskapai lain seiring pergeseran permintaan perjalanan.
Tanggapan pemerintah Malaysia
Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim telah memberi sinyal bahwa negaranya mungkin menghadapi ketidakpastian pasokan bahan bakar paling cepat pada Juni 2026 mendatang.
Respons ini menyusul kerentanan krisis energi global di Malaysia, meskipun pasokan jangka pendek saat ini masih aman.
Gejolak ini telah mempersulit rencana ekspansi ambisiusnya ke Timur Tengah, meskipun AirAsia X menyatakan tetap berniat untuk terus maju.
Maskapai ini telah berencana meluncurkan hub di Bahrain dan memulai rute Kuala Lumpur-Bahrain-London pada 26 Juni 2026 mendatang bila kondisi membaik tepat waktu (*)
Editor: Arifin BH




