SURABAYA ( LENTERA ) - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah sering kali berpusat pada jalur sempit yang dikenal sebagai Selat Hormuz. Jalur ini menjadi urat nadi energi global karena setidaknya seperlima dari pengiriman minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia harus melintasinya untuk keluar dari Teluk Persia.
Namun, stabilitas kawasan ini terguncang ketika Selat Hormuz secara efektif tertutup tak lama setelah Amerika Serikat dan Israel memulai serangan terhadap Iran pada 28 Februari.
Penutupan ini memicu lonjakan harga energi secara instan dan membangkitkan kekhawatiran akan krisis energi global yang membayangi berbagai negara.
Fenomena ini bukan sekadar persoalan politik dan militer, melainkan sebuah realitas geologi yang telah terbentuk selama jutaan tahun. Kondisi geografis yang membuat Selat Hormuz menjadi titik sumbat (bottleneck) yang berbahaya sebenarnya berasal dari proses alam yang sama dengan penciptaan cadangan hidrokarbon raksasa di bawah permukaannya.
Bagaimana sejarah bumi ratusan juta tahun lalu mampu menciptakan jebakan minyak yang begitu masif di wilayah yang kini menjadi pusat konflik tersebut?
Kelimpahan minyak di Teluk Persia berakar pada pergerakan Lempeng Arab yang terus merangsek ke arah timur laut dengan kecepatan sekitar 20 milimeter per tahun.
Sekitar 30 juta tahun lalu, dorongan dari pembukaan Laut Merah menyebabkan Lempeng Arab menabrak Lempeng Eurasia.
"Ibarat kap mobil dalam kecelakaan lalu lintas, kedua benua ini saling meremuk, memendek, dan melengkung secara bersamaan," tulis laporan Scientific American.
Dampaknya adalah terbentuknya Sabuk Lipatan dan Sesar Zagros di Iran, sebuah rangkaian pegunungan sepanjang 1.600 kilometer yang membentang dari Turki timur hingga Selat Hormuz. Proses geologi ini menciptakan apa yang disebut para ahli sebagai foreland basin atau cekungan depan.
Berat dari Pegunungan Zagros menekan Lempeng Arab dan membuatnya melengkung seperti penggaris yang dibengkokkan. Lengkungan inilah yang kemudian memerangkap hidrokarbon dalam jumlah luar biasa besar di kedua sisi Teluk Persia.
Mark Allen, profesor ilmu bumi di Durham University, menjelaskan bahwa kombinasi fakta geologi inilah yang menyebabkan cadangan minyak dan gas di Timur Tengah begitu masif. Menurut tinjauan tahun 2024 dalam jurnal Results in Earth Sciences, wilayah geologi ini menyimpan sekitar 12 persen dari cadangan minyak dunia.
Kondisi ideal ini juga didukung oleh sejarah ratusan juta tahun lalu saat tepi utara Lempeng Arab masih berupa "margin pasif" yang tenang secara tektonik.
Edwin Nissen dari University of Victoria menyebutkan bahwa naik turunnya permukaan laut membangun lapisan demi lapisan serpih (shale) yang kaya organik, batu pasir berpori, hingga batuan penutup yang keras.
Materi organik yang terkubur jauh di bawah permukaan kemudian berubah menjadi minyak dan gas akibat tekanan dan panas yang ekstrem, sementara struktur batuan di sekitarnya berfungsi sebagai wadah sekaligus penutup agar minyak tidak merembes keluar.
Teluk Persia di malam hari diambil dari International Space Station (ISS).NASA
Teluk Persia di malam hari diambil dari International Space Station (ISS).
Ketahanan Energi Global
Kekayaan geologi tersebut kini menjadi kerentanan besar ketika konflik bersenjata pecah. Penutupan Selat Hormuz menyebabkan harga minyak melonjak hingga lebih dari sepertiga, menyentuh angka 100 dolar AS per barel.
Asia menjadi wilayah yang paling terdampak karena 90 persen minyak dan gas yang melewati selat tersebut tahun lalu ditujukan ke sana. Dampaknya sangat terasa di Asia Tenggara, di mana negara seperti Filipina menggantungkan 95 persen kebutuhan minyak mentahnya dari Timur Tengah.
Krisis ini memaksa langkah-langkah ekstrem, mulai dari imbauan kerja empat hari seminggu hingga pengaturan suhu pendingin ruangan di kantor publik Thailand pada level 26°C.
Ketergantungan ini diperparah oleh spesifikasi teknis kilang minyak. Jane Nakano dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) menjelaskan bahwa minyak mentah Timur Tengah umumnya bertipe heavy sour atau medium sour.
"Kilang-kilang di Asia Tenggara telah diatur untuk memproses jenis minyak ini, sehingga beralih ke pemasok lain seperti Amerika Serikat tidaklah sederhana dan membutuhkan investasi signifikan untuk mengubah spesifikasi kilang," ungkapnya, seperti dilansir BBC.
Selain energi, biaya transportasi yang membengkak turut memicu inflasi pangan. Di Vietnam, harga diesel naik hampir 60 persen dalam sebulan, memicu antrean panjang pengendara motor, sementara negara seperti Singapura yang mengimpor 90 persen pangannya menghadapi tekanan harga yang hebat.
Meskipun beberapa negara seperti Tiongkok lebih tangguh karena memiliki cadangan minyak besar dan penetrasi kendaraan listrik mencapai sepertiga dari penjualan mobil baru, ekonomi besar lainnya tetap goyah. Jepang dan Korea Selatan terpaksa melepas jutaan barel dari cadangan nasional mereka sesuai kesepakatan International Energy Agency (IEA).
Di sisi lain, David Oxley dari Capital Economics mencatat bahwa meskipun Amerika Serikat cukup terisolasi berkat produksi fracking domestik yang besar, keterbatasan infrastruktur ekspor membuat mereka belum mampu sepenuhnya menutupi hilangnya pasokan dari Teluk Persia dalam jangka pendek.
Pada akhirnya, geologi yang menciptakan kemakmuran di Teluk Persia kini justru menjadi pusat dari guncangan ekonomi yang dirasakan hingga ke pelosok dunia.(Ella- mahasiswa UINSA, berkontribusi dalam tulisan ini).



