SURABAYA (Lentera) - Lonjakan harga plastik hingga 60 persen mulai memberatkan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Jawa Timur. DPRD Jatim mendesak pemerintah segera mengambil langkah konkret agar kenaikan ini tidak semakin membebani usaha kecil
Anggota Komisi B DPRD Jatim, Khusnul Khuluk, mengaku kenaikan harga plastik sangat terasa di lapangan, terutama bagi pelaku usaha yang bergantung pada kemasan plastik.
“Saya kebetulan orang pasar, jadi sangat terasa kenaikan harga plastik ini. Kalau saya amati, kenaikannya antara 30 sampai 60 persen,” ujarnya, Rabu (8/6/2026).
Menurutnya, kondisi ini menjadi persoalan serius karena berpotensi menekan margin keuntungan UMKM dan berdampak pada stabilitas harga produk di tingkat konsumen.
“Kenaikan ini sangat dirasakan pedagang kecil. Kalau tidak segera diantisipasi, dampaknya bisa luas ke pelaku UMKM,” katanya.
DPRD Jatim mendorong pemerintah daerah melalui dinas terkait segera melakukan langkah mitigasi, baik dalam jangka pendek maupun panjang. Salah satu solusi yang dinilai penting adalah memperkuat industri daur ulang dalam negeri untuk mengurangi ketergantungan pada bahan baku impor.
“Pemerintah harus segera mengambil langkah, baik jangka pendek maupun jangka panjang, termasuk memperkuat industri daur ulang agar tidak bergantung pada impor,” tegasnya.
Khusnul juga mengungkapkan bahwa kenaikan harga plastik dipengaruhi faktor global, khususnya ketergantungan terhadap bahan baku impor. Komisi B DPRD Jatim pun berencana memanggil dinas terkait guna membahas solusi konkret.
“Kami akan memanggil dinas terkait agar ada solusi konkret yang bisa segera dijalankan,” imbuhnya.
Di sisi lain, pelaku UMKM mulai merasakan tekanan langsung dari lonjakan biaya produksi. Mereka dihadapkan pada dilema antara menaikkan harga jual atau menanggung penurunan keuntungan.
“Mau ganti harga khawatir pelanggan keberatan, tapi bahan baku naik semua,” ujar Kenya, pelaku usaha kuliner asal Magetan.
Keluhan serupa juga disampaikan Reza, pemilik kedai kopi di kawasan Rewwin Sidoarjo. Ia menyebut kenaikan tidak hanya terjadi pada plastik, tetapi juga bahan baku lain seperti kopi dan susu.
“Biasanya harga kopi arabica 1 kg sekitar Rp220 ribu, sekarang sudah Rp275 ribu. Susu krimer juga naik, dan plastik ikut naik,” katanya. (ADV)




