RUPIAH kembali kehilangan pijakan. Di tengah lonjakan harga minyak dan ketegangan global yang belum reda, mata uang ini menyentuh level terlemah sepanjang sejarah Indonesia merdeka. Sekaligus menjadi yang paling tertekan di kawasan Asia. Pada Kamis (9/4), kurs di pasar spot melemah Rp78 atau 0,46% ke Rp17.090 per dolar Amerika Serikat (AS).Tekanan datang bukan hanya dari luar. Di dalam negeri, kombinasi kebijakan fiskal yang ekspansif dan cadangan devisa yang terus tergerus mempersempit ruang stabilisasi. Pasar membaca sinyal yang tak sepenuhnya meyakinkan yaitu bantalan menipis, sementara risiko belum juga surut. Pengalaman krisis masa lalu mungkin bisa jadi cermin relevan. Mantan Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Industri Ginandjar Kartasasmita mengingatkan, saat rupiah terpuruk di kisaran Rp16.000–Rp16.900 pada krisis 1998, pemulihan tidak semata soal instrumen teknis, melainkan kepercayaan. Ironisnya, kepercayaan publik saat ini justru tengah berada di puncak. Survei Indikator Politik Indonesia pada Februari 2026 mencatat tingkat kepuasan terhadap kinerja Presiden Prabowo Subianto mencapai 79,9 persen. Jika kepercayaan publik setinggi itu, mengapa pasar masih ragu?. BACA BERITA LENGKAP, KLIK DISINI https://lenteratoday.com/upload/Epaper/10042026.pdf




.jpg)