15 April 2026

Get In Touch

ITS Kembangkan Padi Salin, Solusi Ketahanan Pangan di Wilayah Pesisir

Proses penanaman padi salin di KRM Surabaya sebagai bentuk implementasi hasil penelitian
Proses penanaman padi salin di KRM Surabaya sebagai bentuk implementasi hasil penelitian

SURABAYA (Lentera) - Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengembangkan inovasi padi salin sebagai solusi atas krisis pangan global, khususnya di wilayah pesisir yang terdampak intrusi air laut. Riset ini dilakukan di Kebun Raya Mangrove Surabaya sebagai bagian dari program Equity dalam skema World Class University (WCU).

Pengembangan padi salin digagas oleh Departemen Biologi, Fakultas Sains dan Analitika Data (FSAD) ITS melalui kolaborasi internasional bersama peneliti dari Hue University of Agriculture and Forestry, Vietnam. Penelitian ini juga melibatkan Badan Riset dan Inovasi Daerah Kota Surabaya sebagai mitra strategis dalam mendukung hilirisasi inovasi.

"Permasalahan utama di wilayah pesisir adalah tingginya salinitas tanah dan air. Karena itu, pengembangan padi salin menjadi langkah strategis untuk meningkatkan produktivitas sekaligus ketahanan pangan," ujar Ketua tim riset, Mukhammad Muryono, Selasa (14/4/2026).

Dijelaskannya, padi salin merupakan varietas yang mampu bertahan pada kadar garam tinggi akibat intrusi air laut. Inovasi ini diharapkan dapat mengoptimalkan lahan pesisir yang selama ini tidak produktif.

Pemilihan Kebun Raya Mangrove Surabaya sebagai lokasi penelitian bukan tanpa alasan. Kawasan ini dinilai representatif sebagai laboratorium alam sekaligus etalase pengembangan konsep blue economy di Kota Surabaya. BRIDA berperan dalam penyediaan lahan serta memastikan implementasi hasil riset di tingkat daerah.

Selain pengembangan varietas, riset ini juga mengintegrasikan teknologi ramah lingkungan. Tim ITS memanfaatkan sistem monitoring cerdas berupa Water Level Sensor (WALsens) berbasis tenaga surya untuk memantau ketinggian air secara real-time di lahan persawahan.

Tak hanya itu, pendekatan rendah karbon juga diterapkan melalui penggunaan biochar sebagai pembenah tanah. Teknologi ini berfungsi meningkatkan penyerapan karbon sekaligus menekan emisi metana dari lahan sawah pesisir.

Menurut Muryono, pendekatan ini mengadopsi praktik sukses pengelolaan lahan salin di Delta Mekong, Vietnam, yang telah terbukti mampu meningkatkan produktivitas pertanian di kawasan pesisir.

Program Equity-WCU ini memberikan dampak luas, tidak hanya dalam bentuk publikasi ilmiah internasional, tetapi juga kontribusi terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya poin Tanpa Kelaparan, Kehidupan Sehat dan Sejahtera, Inovasi dan Infrastruktur, serta Kemitraan Global.

"Kolaborasi ini menjadi bukti bahwa riset tidak berhenti di laboratorium, tetapi harus memberi dampak nyata bagi masyarakat. Kami optimistis padi salin dapat menjadi solusi masa depan bagi ketahanan pangan di wilayah pesisir," tutupnya.

Reporter: Amanah/Editor: Santi

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.