KOLOM (Lentera) -Salah satu cara menyambut musim haji ini terdapat salah satu lagu yang populer berjudul Panggilan Haji. Lirik lagu Panggilan Haji ini dikenal menyentuh haji dan sangat populer.
Hj. Nur Asiah Djamil adalah seorang tokoh penting dalam dunia musik Islami Indonesia, dikenal luas sebagai penyanyi nasyid, qariah (pembaca Al-Qur'an), pendakwah, dan pendidik. Hj. Nur Asiah Djamil lahir di Kotari, Medan, Sumatra Utara, pada 10 Desember 1947, dan wafat pada 20 Desember 2014 di Medan pada usia 67 tahun.
Lagu Panggilan Haji merupakan salah satu lagu karya penyanyi Hj Nur Asiah Djamil yang populer hingga saat ini dan juga menjadi lagu favorit setiap musim haji. Lagu ini juga terjual hingga seratus ribu copy bahkan mendapatkan golden record.
Lagu ini sering diputar dan dinyanyikan menjelang musim haji sebagai pengingat akan panggilan suci ke Baitullah. Lagu ini menggambarkan keindahan dan makna spiritual dari ibadah haji, serta kerinduan umat Islam untuk mengunjungi Tanah Suci.
Melodi dan lirik yang ada pada lagu Panggilan Haji ini sangat menyentuh hati, sehingga membuatnya menjadi salah satu lagu nasyid klasik yang dikenang sepanjang masa.
Lirik lagu Panggilan Haji ini, dikutip Kumparan sangat mendalam dan penuh makna, menggambarkan berbagai tahapan ibadah haji, seperti thawaf, sa’i, wukuf di Arafah, bermalam di Muzdalifah dan Mina, serta melontar jumrah. Selain itu, lagu ini juga menyentuh aspek spiritual dengan menyebutkan doa-doa dan harapan agar ibadah haji yang dilakukan menjadi mabrur.
Gelombang awal
Kedatangan jemaah haji dari berbagai negara ke Tanah Suci menjadi tanda dimulainya musim haji tahun ini.
Dilansir dari Saudi Gazette, pada Sabtu, 1 Dzulqa’dah 1447 Hijriah, gelombang pertama jemaah internasional tiba di Madinah dan Jeddah.
Momentum ini bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi awal dari perjalanan spiritual menuju Baitullah yang sarat makna dan penghambaan.
Jutaan hati dari berbagai penjuru dunia mulai melangkah memenuhi panggilan Allah SWT.
Jemaah yang tiba berasal dari sejumlah negara, di antaranya Turki, Pakistan, Malaysia, Bangladesh, dan India.
Sebagian besar jemaah mendarat di Bandara Internasional Pangeran Mohammed bin Abdulaziz di Madinah, sementara sebagian lainnya tiba di Bandara Internasional King Abdulaziz di Jeddah.
Kedatangan mereka disambut hangat oleh otoritas Arab Saudi serta perwakilan dari negara masing-masing.
Ikhtiar memudahkan tamu Allah
Sebagian jemaah datang melalui program Makkah Route, sebuah inisiatif yang dirancang untuk memudahkan proses keberangkatan dan kedatangan jemaah haji.
Melalui program ini, dilansir Kompas berbagai prosedur seperti pemeriksaan dokumen, data biometrik, hingga penerbitan visa dilakukan sejak di negara asal.
Setibanya di Arab Saudi, jemaah dapat langsung menuju tempat penginapan tanpa melalui proses panjang di bandara.
Langkah ini menjadi bentuk ikhtiar dalam menghadirkan kenyamanan bagi para tamu Allah agar dapat lebih fokus menjalankan ibadah.
Program Makkah Route pada tahun 2026 telah melibatkan 10 negara, termasuk Indonesia, Malaysia, Pakistan, Bangladesh, hingga Brunei Darussalam.
Sejak diluncurkan pada 2017, program ini telah melayani lebih dari 1,25 juta jemaah haji dari berbagai negara.
Sambutan hangat di Tanah Suci
Kedatangan jemaah haji disambut oleh berbagai pihak, mulai dari pejabat Arab Saudi hingga perwakilan negara asal jemaah.
Suasana penyambutan ini mencerminkan penghormatan terhadap para tamu Allah yang datang untuk menunaikan rukun Islam kelima.
Jemaah asal Pakistan, Malaysia, Bangladesh, dan India menjadi bagian dari gelombang awal yang memulai perjalanan ibadah di Tanah Suci.
Setiap langkah mereka membawa harapan untuk memperoleh haji yang mabrur serta keberkahan dalam kehidupan.
Awal dari perjalanan spiritual
Musim haji bukan hanya tentang ritual, tetapi juga perjalanan batin untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Setiap jemaah datang dengan niat yang tulus, meninggalkan keluarga dan tanah air demi memenuhi panggilan suci.
Perjalanan ini mengajarkan kesabaran, keikhlasan, dan persaudaraan di antara sesama muslim dari berbagai latar belakang.
Kedatangan gelombang pertama jemaah menjadi pengingat bahwa ibadah haji adalah momentum memperbaiki diri dan memperkuat hubungan dengan Sang Pencipta.
Seiring berjalannya waktu, jutaan jemaah lainnya akan menyusul hingga puncak ibadah haji tiba.
Di Tanah Suci, seluruh perbedaan melebur dalam satu tujuan, yaitu menggapai ridha Allah SWT (*)
Editor: Arifin BH