21 April 2026

Get In Touch

Kemdiktisaintek Klarifikasi Anggaran Riset 2026 Total Capai Rp8 Triliun

Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan (Ditjen Risbang) Kemdiktisaintek, Fauzan Adziman. (foto: Kemdiktisaintek)
Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan (Ditjen Risbang) Kemdiktisaintek, Fauzan Adziman. (foto: Kemdiktisaintek)

JAKARTA (Lentera) - Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) memberikan klarifikasi soal besaran anggaran riset nasional tahun 2026, mencapai sekitar Rp8 triliun dari berbagai skema pendanaan yang terintegrasi.

Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan (Dirjen Risbang) Kemdiktisaintek, Fauzan Adziman, menjelaskan angka Rp1,7 triliun yang diumumkan pada 9 April 2026 lalu hanya mencakup sebagian skema pendanaan yang berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

"Kalau kita gabungkan dana abadi penelitian dan perguruan tinggi dengan dana riset kita dari APBN, plus dana di BRIN, itu totalnya sekitar Rp8 triliun dan itu benar di sosial media. Yang kurang tepat adalah Rp1,7 triliun, ini bukan total dari dana riset kita," ujar Fauzan dalam kegiatan Penandatanganan Kontrak Program Pendanaan Riset di Jakarta, melansir Antara, Senin (20/4/2026). 

Dijelaskannya, angka total Rp8 triliun tersebut merupakan akumulasi dari anggaran riset APBN Kemdiktisaintek sebesar Rp3,2 triliun, dana abadi LPDP, serta pendanaan riset yang dikelola Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Menurut Fauzan, anggaran riset tahun 2026 tidak mengalami penurunan. Sejumlah program lain dalam skema APBN, termasuk pendanaan riset prioritas untuk hilirisasi, masih dalam proses dan akan diumumkan secara bertahap.

Ia juga menyebutkan, tahap awal pendanaan difokuskan pada pemerataan akses agar lebih banyak perguruan tinggi dan peneliti muda dapat terlibat dalam ekosistem riset nasional.

Hal ini terlihat dari meningkatnya partisipasi perguruan tinggi dalam pengajuan proposal riset pada tahun ini. Kemdiktisaintek mencatat antusiasme yang tinggi dari kalangan akademisi di berbagai bidang penelitian.

Fauzan memaparkan, berdasarkan skema Rencana Induk Riset Nasional (RIRN), bidang sosial humaniora menjadi yang paling dominan dengan 6.819 proposal atau 38,36 persen dari total pengajuan.

Di posisi berikutnya terdapat bidang kesehatan dengan 3.713 proposal (20,89 persen), serta bidang pangan sebanyak 3.023 proposal (17,01 persen). Sisanya tersebar pada bidang rekayasa keteknikan, energi, maritim, transportasi, serta pertahanan dan keamanan.

Secara keseluruhan, tercatat sekitar 104.000 proposal riset diajukan oleh perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Namun, hanya 18.215 proposal yang berhasil mendapatkan pendanaan.

Dengan capaian tersebut, tingkat keberhasilan pendanaan riset nasional berada di angka 17,4 persen, menunjukkan tingkat persaingan yang semakin ketat di kalangan peneliti.

Khusus untuk kategori penelitian murni, tingkat kelolosan bahkan menurun signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Fauzan menyebut, tingkat keberhasilan tahun ini hanya sekitar 13 persen.

"Sebetulnya besaran kelolosannya itu tahun ini sebesar 13 persen. Jadi bayangkan tahun lalu untuk penelitian itu 32 persen. Jadi kalau ada tiga orang jalan bergandengan tangan satu dapat dana. Sekarang hampir sepuluh orang baru satu dapat dana," katanya.

Meski persaingan semakin ketat, Kemdiktisaintek menilai tingginya jumlah proposal merupakan indikator positif bagi perkembangan ekosistem riset di Indonesia.

Editor: Santi

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.